Follow Up Ke-Mahasiswaan: Tipologi, Kritis, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Oleh: Ozie, mhs aktif IAIN Madura
Secara definitif mungkin sebagian banyak dari kita sudah mengetahui bahwa mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, tetapi pemaknaannya tidak hanya sesederhana itu apabila ber-mahasiswa memberikan banyak nuansa baru dalam segi keilmuan dan pengembangan serta pengalamannya. Oleh karena itu, minimal sebelum lulus, mahasiswa sudah faham tentang identitasnya sendiri bahkan mampu memahami pegangan apa saja yang perlu dirawat dan dikembangkan untuk kepentingan masyarakat (umat) dan keluarga.

Mahasiwa setidaknya juga harus mampu memahami tujuannya kenapa ber-mahasiswa.

Selain itu Mahasiswa juga harus mengetahui tujuannya kenapa harus berpendidikan, supaya ketika sudah masuk dan dihadapkan di dunia miniatur negara, terkesan kuliah saja bahkan melupakan esensi daripada tujuan mulianya. Supaya tidak terkesan hanya menjadi penerus kebengkokan yang sebelumnya, hanya menjadi konsumtif dan mengedepankan stylis tanpa mengingat Tridharmanya (kewajiban).

Hanya menjadi pengekor (ikut arus) dari apa yang diucapkan seniornya tanpa memilah dan memilah terkait apa yang yang diucapkan senior tersebut baik untuk dirinya dan bangsanya atau bahkan buruk.

Sahabat, perlu kita sadari bahwa menjadi mahasiswa, tanggung jawabnya sangat berat. Selain harus berilmu, mahasiswa juga harus beramal pada lingkungannya, menjaga nilai-nilai kebersamaan, dan menjaga nilai kemanusiaan, yang menjadi pegangan hidup semua manusia. 

Kita juga perlu menyadari untuk tidak tenggelam dalam kenyamanan sesaat yang diberikan oleh miniatur ini. Ujaran pujian serta pencapaian-pencapaian yang hanya melenakan tidak perlu terlalu banyak ditelan yang itu pun masih belum tentu apa yang kita dapat melalui nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan. 

Agen of change jangan sampai hanya menjadi kalimat hisapan, melainkan harus senantiasa menjadi renungan. Agend sosial control, hanya menjadi kenikmatan diksi, bagi mereka yang terlalu larut dalam kekuasaan. Agen iron stock, hanya menjadi pengganti dan meneruskan yang tidak semestinya.

Mahasiswa Ideal atau istilahnya dealis adalah mahasiswa yang mampu menyesuaikan kepentingannya di internal kampus maupun eksternal kampus. Tipe mahasiswa ini sangat penting untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa khususnya mahasiswa baru guna menciptakan pemikiran mahasiswa yang ideal atau menciptakan kesadaran bahwa mahasiswa adalah arsitek dari pembangunan suatu bangsa, dapat dilakukan sejak mahasiswa memasuki gerbang kuliah. Hal ini dikarenakan mahasiswa baru masih terlihat polos dan masih bisa dikatakan belum mempunyai idealisme yang kuat, sehingga masih kebingungan dalam mencari jalan apa yang akan ditempuh ke depannya.

Ironisnisnya, jalan yang ditunjukkan oleh para birokrat tentang mahasiswa ideal hanya tunduk pada kebijakan birokrasi, lulus empat tahun, dan mempunyai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi. Mindset atau pemikiran-pemikiran seperti inilah yang nantinya akan menggiring mahasiswa baru hanya sekedar manut dan meninggalkan pikiran kritisnya yang kemudian akan mengakibatkan diskusi-diskusi di kampus semakin berkurang, organisasi intra maupun extra kampus mulai sepi peminatnya.

Kemudian juga ironis, ketika kita kritis malah dicap sebagai pembangkang. Kondisi-kondisi seperti inilah yang akan menciptakan inlander-inlander baru yang tunduk terhadap penguasa kampus yang masih belum jelas arahnya. Mahasiswa layaknya bebek yang mau di giring ke kanan, ke kiri oleh pemiliknya. Sehingga dampak yang lebih luas lagi adalah lebih menganganya jurang antara mahasiswa dengan rakyat.

Tulisan ini sebagai pengingat untuk diri sendiri dan para pembaca yang merasa dirinya mahasiswa ialah untuk senantiasa ingat dan menyadari bahwa ber-mahasiswa tidak hanya perihal diri sendiri. 

Sumenep, 24/01/2023
#Hikmah_hidup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi