Persahabatan dalam Organisasi

Oleh: Syuhud Syayadi Amir, Anggota PMP
Mengaca kepada apa yang disampaikan Reza AA Wattimena dalam bukunya yang berjudul Bahagia, Kenapa Tidak saya memikirkan apa yang terjadi dalam organisasi saat ini.

Reza menyebutnya organisasi yang menyebar ke seluruh dunia terkesan menjadi organisasi teroristik.

Organisasi yang sekedar menampung banyak manusia tetapi semakin mengikis nilai-nilai kritis manusia dan menghilangkan rasa persahabatan.

Mungkin dalam hal ini sangat banyak yang bisa dijadikan sample atau alasan untuk membenarkan hal tersebut.

Tetapi, saya lebih tertarik kepada pembahasan terkait persahabatan sebagai awal daripada tema ini.

Persahabatan.adalah rumah dari manusia-manusia yang menginginkan rasa nyaman, aman, dan bahagia.

Tentunya, kebahagiaan tersebut lahir atas nama kebenaran yang tidak ada campur tangan kemunafikan manusia dalam mengalami kebahagiaan.

Di era globalisasi saat ini, manusia selalu dihadapkan dengan banyak persoalan yang perubahannya cenderung bersifat pesat dan cepat.

Akhirnya, apabila manusia tidak memiliki kepribadian yang kokoh dalam menentukan sikapnya yang kalau kata Moh. Hatta disebut sebagai kemandirian dalam bersikap menjadi orang akademisi atau intelektual.

Kata Bung Hatta, manusia yang mengaku akademis dan berilmu pengetahuan seharusnya selalu memiliki alasan di balik apa yang dia lakukan dan ucapkan kepada khalayak publik tentunya.

Nah, perubahan sosial di era globalisasi saat ini akan menghilangkan keaslian manusia secara cepat hingga bahkan mengarah kepada kesalahan dalam menentukan sikap apabila manusia sudah kehilangan jati dirinya lebih-lebih sebagai anak bangsa Indonesia.

Tentunya, dalam mengimbangi atau bahkan menjadi solusi dalam hal ini manusia harus tetap membaca, berdiskusi, bahkan menciptakan hal-hal baru dalam hidupnya yang tidak hanya menjadi konsumsi pribadi, tetapi juga bisa disaksikan dan dirasakan oleh khalayak umum (masyakarat).

Tidak cukup bagi manusia modern yang tersentuh dengan media online apabila hanya berasumsi dengan menggunakan media, tetapi juga harus dibuktikan dengan nyata dan duduk bermusyawarah atau berdialog demi menemukan kebenaran.

Dialog ini saya istilahkan sebagai rumah persahabatan. Rumah yang tak sekedar di bangun atas dasar bangunan-bangunan besar atau gedung-gedung tinggi, tetapi bangunan yang metafisis yaitu perasaan.

Reza AA Wattimena menyebutnya sebagai bangunan metafisis yang mampu membuat manusia merasa nyaman dan mau berbagi serta berdialog dalam setiap masalah yang dihadapinya.

Berbicara perihal organisasi, pasti ada kaitan eratnya dengan persahabatan, persahabatan yang tidak sekedar dirasakan oleh sebagian orang di dalamnya, tetapi semua orang yang mampu merasakan serta bertindak sebagai manusia yang memiliki alasan kemanusiaan.

Pamekasan, 17 Januari 2023 M. #Dalam_Hidup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi