Berani di Kandangnya Sendiri: Benarkah Semua Perjuangan Dibatasi Dengan Jarak dan Wilayah?
Oleh: Syuhud Syayadi Amir, anggota PMP
Sebenarnya pikiran ini muncul sejak lama sekali. Tentang seseorang yang berani di Kandangnya sendiri. Maksudnya adalah manusia yang memiliki kepekaan, keberanian, dan kepedulian perjuangan hanya di kelas yang biasanya ia tempati.
Ketika dipertemukan dengan persoalan yang ada di luar kelasnya, maka ia berpaling seakan-akan tidak mau ikut campur urusan kelas yang lain, padahal itu bukan urusan kelas, melainkan urusan universal yang wajib diperjuangkan tanpa harus membeda-bedakan kelas.
Dalam hal ini misalnya di lingkup kabupaten. Bahwa terkadang orang yang ada di dalam Kabupaten tertentu tidak mau berjuang di kabupaten yang berbeda. Padahal urusannya sama, yaitu sama-sama memperjuangkan kebenaran. Fokusnya adalah kebenaran, bukan letak di mana kesalahan itu terjadi.
Memang bisa dibenarkan jika berjuang dari sekala kecil terlebih dahulu, tetapi bukan berarti selamanya harus memiliki pemikiran sependek itu. Pikiran kita harus lebih luas memandang manusia bukan sekedar dalam lingkup kabupaten, tetapi lebih daripada itu, memandang manusia dari sudut pandang Indonesia bahkan dunia.
Di beberapa kesempatan saya selalu bertemu dengan manusia-manusia yang kelihatannya tidak mau berjuang kalau bukan di kandangnya sendiri. Bahkan saya pun memiliki pikiran yang sama, mungkin karena terlalu kerasnya budaya rasis memakai simbol wilayah. Padahal, letak wilayahnya masih dalam simbol yang sama, simbol yang lebih besar yaitu Indonesia.
Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, keadilan, dan kesejahteraan bersama, bukan sekedar keadilan dalam wilayah sekecil kabupaten semata, tetapi semuanya bahkan mampu mensejahterakan dunia.
Tidak salah jika manusia mencintai wilayahnya, tetapi wilayah yang lebih besar seharusnya lebih dicintai. Wilayah yang lebih besar adalah wilayah yang diperkenankan Tuhan untuk hidup di dalamnya, yaitu dunia ini, alam ini, bahkan kehidupan ini.
Perjuangan tidak sesempit wilayah dalam pikiran kita sediri, tetapi perjuangan selalu memiliki ruang dimanapun berada. Perjuangan akan selalu hidup dimanapun dan bersama siapapun. Karena perjuangan memiliki fokusnya sendiri, yaitu kebenaran. Sedangkan kebenaran tidak hanya berada dalam lingkup yang kecil, tetapi kebenaran selalu berada dalam jejak manusia hidup di dalamnya.
Jika ada tugas kemanusiaan yang harus diperjuangkan, sekalipun kejadian itu berada di wilayah yang berbeda, harusnya kita memiliki perasaan yang sama, yaitu rasa sakit yang menimpa manusia lain yang dirampas haknya sebagai manusia. Bukan berarti jika kejadian yang tidak berprikemanusiaan terjadi di lingkungan yang berbeda, kita tidak peduli dengannya. Bahkan membiarkan itu terjadi dengan alasan bukan wilayahnya.
Jika demikian, benarkah cinta kemanusiaan sudah memiliki letak wilayah? Benarkan mencintai kebenaran sudah diukur dengan jarak? Benarkan mencintai kesejahteraan sudah diukur dengan wilayah kabupaten saja dan tidak peduli akan kesejahteraan kabupaten yang berbeda?
Ini bukan perihal ikut campur urusan orang lain atau bahkan wilayah lain, melainkan usaha untuk membedakan di mana yang harus diperjuangkan dan di mana yang harus dibiarkan karena memang menjadi urusan orang lain atau wilayah yang berbeda.
Pamekasan, 06 February 2023 M. #Dalam_Hidup
Komentar
Posting Komentar