Laki-laki Pembawa Hikmah; Kejujuran, Ilmu Pengetahuan, dan Akhlak yang Baik

Oleh: Syuhud Syayadi Amir, anggota PMP
Hari ini saya mendapat pelajaran yang luar biasa. Pelajaran ini bukan pelajaran baru, tetapi pelajaran lama yang perlu diulang-ulang untuk mengingat dan mempraktekkannya.

Sebelum adzan Dzuhur berkumandang, ada sesosok lelaki yang datang kepada saya. Laki-laki itu masih kelihatan muda walaupun anaknya sudah dua.

Selang beberapa waktu setelah bicara panjang lebar, akhirnya dia menyampaikan pelajaran itu kepada saya. Pelajaran itu saya anggap sebagai sesuatu yang datang dari Tuhan lewat laki-laki itu.

Pelajaran pertama, ia sampaikan tentang kejujuran dan akhlak. Bahwa manusia akan mulia dengan akhlak dan kejujurannya. Seperti apapun manusianya, jika ia memiliki sifat jujur dan akhlak yang baik, maka ia akan mulia di sisi manusia bahkan di sisi Allah.

Kedua, ia menceritakan hasil pendengarannya dari salah satu ulama di desanya. Bahwa beberapa waktu yang lalu, ia mendengar ceremah tentang bagaimana mengasuh anak. Menurutnya, sebagai hasil dari pendengarannya dari ulama yang dia dengarkan ceramahnya, bahwa untuk mendidik anak itu ada tiga fase.

Fase yang paling awal yaitu dimulai sejak umur 1-7 tahun anak harus dijadikan bagaikan raja. Bahwa apapun yang diinginkannya harus diberikan selama tidak membahayakan anak. Kemudian fase yang selanjutnya adalah sejak umur 7-14 tahun, anak harus dibudayakan dengan sebuah aturan. Aturan yang dimaksud adalah aturan untuk membuat anak menjadi konsisten dan taat kepada aturan-aturan yang ada. Fase terkahir adalah sejak umur 15-21 tahun, anak harus diperlakukan layaknya seorang sahabat.

Tiga fase itulah yang akan menjadikan anak lebih matang dalam menjalani kehidupan. Sehingga pada saat dipertemukan dengan segala persoalan hidup, anak itu akan menjadi tangguh dan memiliki prinsip yang kuat dalam kehidupannya.

Pelajaran ketiga dari laki-laki yang datang kepada saya itu adalah tentang manusia yang berilmu dan berakhlak. Dalam hal ini saya ingin menyimpulkan dan menyederhanakannya untuk lebih mudah masuk ke dalam akal dan batin saya khususnya.

Laki-laki itu menyampaikan bahwa manusia akan sempurna karena kepintaran yang ditopang dengan kejujuran dan akhlak yang baik. Manusia akan sempurna bila memiliki kepribadian yang bernilai tinggi, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah.

Pelajaran yang ke tiga ini sebenarnya penjabaran dari apa yang disampaikan di pelajaran yang pertama. Ia juga menyampaikan salah satu ayat Al-Qur'an yang artinya "apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?".

Ayat tersebut disampaikan sepertinya ingin mengatakan bahwa manusia tidak perlu mengatakan bahwa dirinya memiliki pangkat atau jabatan serta mahir dalam segala ilmu pengetahuan, karena Tuhan telah mengajarkan manusia untuk melihat mana orang yang benar-benar berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Dalam hal ini manusia diajak untuk tetap rendah hati dan jangan sombong.

Pesan dia yang terakhir kepada saya sebelum dia pulang, bahwa untuk menjadi orang sukses maka jangan terlalu berambisi, nikmati prosesnya, bersabarlah, serta miliki sifat jujur dan pertahankan kejujuran itu sekalipun ada banyak orang yang mau menjatuhkannya. Tuhan yang mengatur semuanya. Jika Tuhan berkehendak kamu tetap kokoh, maka kamu akan tetap kokoh sekalipun akan ada banyak orang yang mau menjatuhkannya.

Pesan paling terkahir yang saya ingat adalah tentang pengayoman kepada anak kecil untuk dididik mengaji. Jika ada anak kecil, lalu kamu memiliki ilmu pengetahuan untuk mengajarinya, maka ajari mereka. Karena itulah yang akan menjadikanmu sukses dan insyaAllah kelak anak-anak yang kamu ajari itu akan mengangkat derajatmu di sisi Allah.

Semoga sedikit tulisan yang berisi sekedar cerita biasa ini dapat menjadi hikmah khususnya kepada saya pribadi dan umumnya kepada pembaca yang Budiman, amin.

Pamekasan, 11 Februari 2023 M. #Dalam_Hidup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi