Pemimpin yang Melempem
Tiba-tiba saya membayangkan kepemimpinan yang Melempem. Simpelnya adalah pemimpin yang tidak jelas dan tidak memiliki semangat dalam memimpin. Ngalir begitu saja, tidak jelas arahnya kemana, bahkan hanya menjadikan title yang dimilikinya sebagai alat mencari ketenaran semata.
Bagaimana jadinya apabila memiliki pemimpin yang demikian? Bagaimana keadaan rakyatnya? Aneh betul bukan? Pada saat menulis dan membayangkan perihal pemimpin yang seperti ini (melempem) rasanya geli dan tertawa sendiri.
Misalnya, ada salah satu rakyat bertanya atau menyampaikan aspirasi kepada pemimpin yang sedemikian "Wahai pemimpinku, bagaimana keadaan bangsa kita hari ini?" Kemudian si pemimpin menjawab sembari menampakkan diri yang seakan-akan budek, hahahaha... "Aman-aman saja, wahai rakyatku,,,!" Bawaannya kepingin ditabok.
Pemimpin yang jenis kelaminnya mungkin bisa dikenal, tetapi tampak daripada keberanian dan kecerdasannya sebagai seorang pemimpin menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki jenis kelamin yang jelas. Aneh bukan?
Pamflet-pamflet dengan tangan perjuangan serta baju yang kelihatan rapi menampakkan wibawa dan pemimpin yang mampu melahirkan generasi-generasi emas di masa depan, tetapi itu sekedar di pamflet-pamflet doang. Kenyataannya nol. Rakyatnya masih banyak yang bodoh, miskin, kelaparan, bahkan tidak memiliki moral kemanusiaan.
Teringat kepada deskripsi buku Bencana-bencana Besar dalam Sejarah Islam bahwa kehancuran dan kekalahan bangsa-bangsa Islam salah satunya disebabkan oleh pemimpin-pemimpinnya sendiri yang rakus akan keduniaan, lebih mementingkan gaya daripada memikirkan nasib rakyatnya.
Kembali kepada pemimpin yang Melempem. Saya membayangkan dalam satu organisasi, bangsa, dan lainnya yang ada istilah pemimpinnya. Ada seorang pemimpin yang Melempem yang terpilih bukan karena hasil murni daripada rakyatnya, tetapi dimenangkan dalam sistem yang mengaturnya. Karena kebanyakan yang memegang sistem pemenangan adalah bagian daripada orang-orang yang ada di baliknya.
Atau mungkin ia menang karena memang tidak ada lagi orang lain yang bisa dijadikan pemimpin, akhirnya ia terpilih secara kebetulan dan keberuntungan saja, eh bukan keberuntungan yah, tetapi sebagai musibah bagi rakyatnya. Hahaha.
Sudahlah, saya cukupkan saja tulisan ini tentang pemimpin yang Melempem. Semoga kita semua bisa berpikir lebih jernih dan lebih mudah untuk bahagia, amin.
Terakhir, mari kita sama-sama membayangkan kepemimpinan yang Melempem... Salah literasi!
Pamekasan, 05 Februari 2023 M. #Dalam_Hidup
Komentar
Posting Komentar