Sekilas Cerita Luka yang Tak Berkesudahan
Oleh: Syuhud Syayadi Amir, anggota PMP
Entahlah! Saya juga tidak tau bagaimana nasib saya ke depan. Tetapi harapan yang selalu saya langitkan adalah mati dalam keadaan Husnul Khatimah, amin.
Persoalan hidup dan alurnya, saya pasrahkan kepada Tuhan. Selebihnya, saya usahakan semampu dan sebisa saya. Saya berharap bisa selalu merasa bahagia dimanapun dan bagaimanapun kehidupan saya.
Banyak hal yang masuk dari luar diri dan terkadang itulah yang menjadi penyebab hati terluka. Sehingga saya harus selalu belajar bagaimana caranya agar tidak terperangkap oleh apa-apa yang ada di luar diri saya jika hal tersebut menyakitkan.
Sudah beberapa hari ini sedikit tidur. Memikirkan banyak hal, memikirkan segala sesuatu yang hadir tanpa undangan. Laksana angin yang datang tanpa harus saya tentukan waktunya.
Saya berpikir panjang akan semua ini. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa waktu terasa cepat berlalu padahal diri masih belum bisa menjadi yang terbaik dalam kehidupan. Masih banyak yang belum terwujud, masih banyak yang terbengkalai menjadi sebuah mimpi semata.
Apa memang seharusnya saya memikirkan semua ini? Pentingkah apa yang saya pikirkan ini? Atau hanya menjadi salah satu penyebab keruntuhan akal dan hati? Atau,,,, entahlah! Tuhan yang Maha Mengetahui semua ini.
Saya menulis ini hanya sebagai sarana untuk membahagiakan diri dengan cara menghibur hati dan jiwa. Saya merasa terhibur jika berada dalam kalimat-kalimat nyata dalam kemurnian. Ngalir dengan seadanya, sejujurnya, dan sebisanya.
Mungkin hanya saya yang merasakan semua ini atau juga ada banyak orang di luar sana dengan akal dan hati yang sama? Terkadang saya berpikir bahwa ini hanya ada dalam kehidupan saya. Saya akui ini semua karena semakin jauhnya diri dengan Tuhan.
Tetapi terkadang pikiran saya masih bertanya. Perihal luka hamba yang tak pernah berkesudahan ini. Mungkinkah Tuhan akan membiarkan saya menjadi terombang-ambing dalam kehampaan, terbuang dari makna kehidupan, hilang dari perasaan yang benar-benar membahagiakan, bahkan terhapus dari sebagian hamba yang shalih?
Di jalan raya, saya melihat orang-orang berlalu lalang mengendarai roda-roda kehidupan. Ada yang berjalan kaki, ada juga yang berjalan bersama dengan tawa penuh kebahagiaan.
Tetapi, saya dalam keadaan merasa kesepian. Bahkan pada saat berkumpul sekalipun saya tidak pernah merasakan kedamaian dalam kegembiraan. Sungguh hati saya sedang mengalami penyakit kronis yang mematikan.
Tuhan,,,! Salahkah jika hamba selalu menyalahkan diri sendiri? Bagaimana mungkin saya merasa benar dalam keadaan hina ini?
Saya benar-benar merindukan masa lalu. Walaupun saya menyadari betul tentang waktu yang tak akan pernah bisa diputar kembali.
Pamekasan, 25 Februari 2023 M. #Dalam_Hidup
Komentar
Posting Komentar