Berilmu Dulu Sebelum Beramal dan Berkata; Tongkrongan AA Punya Cerita
Oleh: Syuhud Syayadi Amir, anggota pmp
Ada ungkapan menarik di dinding Tongkrongan AA. Kejelasan katanya begini "berilmu dulu sebelum beramal dan berkata". Kata-kata tersebut sepertinya menarik apabila dijadikan sebuah inspirasi menulis catatan indah berharap kedalaman makna.
Akhirnya, saya mengajak salah satu teman yang kebetulan duduk bareng pada saat itu. Saya mengajaknya untuk menulis bareng dan inspirasinya diambil dari kata-kata tersebut.
Teman saya mengiyakan sebagai tanda setuju. Kemudian saya langsung memulai mencari ide tentang apa makna yang bisa saya ambil dan diabadikan dalam sebuah karya tulis.
Saya memulai dengan memikirkan membaca kembali kalimat tersebut dan memikirkannya secara lebih mendalam walaupun masih belum terlalu mendalam.
Bahwa kata-kata yang terpampang di dinding Tongkrongan AA tersebut menarik khususnya jika dikaitkan dengan persoalan manusia saat ini, terkhusus saya sendiri sebagai manusia yang selalu menyadari kekurangan dan kesalahan.
Dari kata-kata itu saya teringat karya imam Ghazali yang sempat saya baca sedikit yang berjudul Ihya' 'Ulimuddin. Kata "berilmu dulu sebelum beramal dan berucap" berkaitan erat salah satu karakteristik manusia dalam karya imam Ghazali tersebut.
Salah satu karakteristik manusia itu adalah "ada manusia yang tidak tahu, tetapi dirinya tidak tahu bahwa tidak tahu" kalau kata imam Ghazali manusia seperti ini berbahaya. Manusia semacamnya adalah manusia yang bodoh, bahkan kepada dirinya sendiri.
Berilmu dulu sebelum beramal dan berkata itu juga menguatkan ajaran Islam tentang pentingnya mencari ilmu pengetahuan. Itu dibuktikan dengan salah satu ayat yang artinya "apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?". Ayat ini bisa pembaca cari sendiri dalam Al-Qur'an sekalian juga dengan asbabun Nuzul juga tafsirnya.
Mungkin kita juga sering mendengar istilah "sesat dan menyesatkan". Hal ini juga bisa dijadikan salah satu dampak atau konsekuensi daripada orang yang lebih banyak bicara dan beramal sedangkan tidak memahami betul apa yang diamalkan dan diucapkan itu merupakan sebuah kebenaran atau bahkan sebaliknya.
Sekali lagi saya ingin mengulang kata yang terpampang di dinding itu "berilmu dulu sebelum beramal dan berkata!". Kalimat ini memang perlu diulang-ulang dengan harapan tulisan ini tidak sekedar menjadi sebuah tulisan yang dibaca lalu dilupakan, tetapi bisa menjadi tulisan yang selesai dibaca masih membekas menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang selalu haus akan hikmah kehidupan.
Jadi, inspirasi dari tulisan di dinding Tongkrongan AA itu sedikit membuat saya berpikir kembali terhadap apa-apa yang sudah saya katakan dan amalkan sebelumnya. Hal ini tidak salah, tetapi memang perlu dilakukan oleh manusia yang selalu merasa wajib belajar, belajar dan belajar.
Kalimat tersebut juga ada kaitannya dengan ayat Alqur'an yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad, yaitu surah Al-Alaq. Secara sederhana ayat itu membahas perihal literasi.
Secara mendasar dan sesimple pemahaman saya bahwa literasi itu penting atau pemahaman itu penting. Jawaban manusia untuk memahami sesuatu adalah ilmu. Tanpa ilmu mustahil bisa memahami sesuatu kecuali faktor x yang dalam istilah Islam hal ini disebut sebagai faktor keberuntungan, takdir, dan kuasa Allah.
Paling terakhir, "berilmu dulu sebelum beramal dan berkata". Belajar, belajar, belajar sampai mati dan sampai masuk ke kubur. Carilah ilmu sejak dari gendongan sampai liang lahat. Ilmu itu penting, karena lawan kata dari ilmu adalah kebodohan. Kecuali yang berilmu adalah orang-orang yang salah yang menggunakan ilmunya sebagai alat kerusakan kemanusiaan dan jauh dari nilai-nilai Islam.
Semoga sedikit tulisan ini membekas di akal dan batin para pembaca khususnya di akal dan batin saya. Semoga tulisan ini juga bermanfaat bagi saya dan pembaca amin.
Pamekasan, 14 Maret 2023 M. #Dalam_Hidup
Komentar
Posting Komentar