Mahasiswa yang Terbelenggu, dan Tidak Tahan dengan Daya Tipu

Oleh: Ozy, anggota PMP sekaligus mahasiswa aktif IAIN Madura, prodi KPI


Melihat kondisi sosial masyarakat akademik hari ini, sedikit mengajakku untuk ngopi sebentar bersama otak kesadaranku dengan pembahasan yang hangat dan lahir dari lingkungan terdekat lalu berdasarkan hipotesis yang ditemukan dari kalangan elit pengemban amanah dan tanggung jawab sosial, katanya.

Namun, sebelum mengarah kepada tanggung jawab, perlu kiranya untuk memahami dulu dari pertanyaan-pertanyaan sederhana. 

Apakah kamu bangga dengan statusmu sebagai Mahasiswa ? Sudahkah mengerti pijakan dan langkah yang perlu disadari dari statusmu ? Sejauh mana dalam memahami akan tugas dan fungsinya? 

Oke, bisa dijawab dan dipelajari secara autodidak, dan direnungkan dalam-dalam perihal itu. Lalu saya akan ambil beberapa keyword saja perihal Mahasiswa, yaitu dengan kata "Idealisme" yang berawal dari kata "ideal", lalu ditambah dengan "intelektualisme". 

Sudah tidak asing bukan dengan dua istilah itu ? Jadi apa yang kau fahami? Atau belum memahami? Atau malah bangga tanpa memahami, karena dua kalimat itu sering dilekatkan kepada istilah Mahasiswa. 

Dalam idealisme itu sendiri memang tidak terlepas dari kaitannya dengan pengetahuan, tetapi sejatinya mahasiswa yang memiliki idealisme adalah mahasiswa yang memahami bahwa ia sedang hidup dengan usaha menurut cita-citanya, dan menurut patokan yang dianggap sempurna. 

Lalu hari ini, kembiguan ketika melihat kondisi sosial akademik, seolah-olah mengatakan bahwa hidupnya tergantung prinsip yang cenderung berpatokan pada diluar dirinya (terpengaruhi oleh diluar individunya), ditawarkan keindahan, yang seakan-akan dapat menjamin kebahagiaan, meski itu sudah diluar keyakinan/harapan/prinsipmu sedari awal, dengan kondisi yang terlena, akhirnya bersikap layaknya bukan seorang mahasiswa.

Dibawah naungan perguruan tinggi, memang tidak akan jauh dengan persoalan diskusi, kajian-kajian literasi dan penelitian. Oleh karenanya, saya hanya ingin berbagi dan saling mengingatkan, bukan hanya persoalan idealnya, tapi juga merawat ke intelek-annya, yang sering saya sebut sebagai masyarakat cendekia yang memiliki kecerdasan berfikir, kemudian menciptakan nilai-nilai kritis, yang artinya tidak mudah gampang percaya ataupun menerima suatu hal yang terlihat indah apalagi meyakinkan. Istilah lainnya yang kita kenal juga adalah intelektualisme, yaitu kesetiaannya terhadap kecerdasan yang berdasarkan dari latihan daya fikir dan selalu berlandaskan ilm. Bukan ia yang berlandaskan gelar, jabatan, kekuasaan dan penuh harta, melainkan pengetahuan atau kepandaiannya tentang duniawi, akhirat, lahir dan batinnya. Jangan terkungkung keadaan, jangan terbelenggu oleh anggapan, berdiri dan berdikari melalui mengoptimalkan dalam berfikir dan terus mencari kebenaran bukan dari "katanya" tetapi "faktanya", itulah Mahasiswa.

Salam akal sehat !
Salam semangat !
Salam literasi !

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi