Jabatan, Kekayaan, dan Kekuasaan Bukan Satu-satunya Cara Manusia Menjadi Mulia
Oleh: Syuhud Syayadi Amir, anggota PMP
Terkadang manusia dikalahkan oleh dirinya sendiri. Karena teringat apa yang dikatakan Albert Camus, bahwa pahlawan sejati dilihat dari bagaimana ia mampu melawan dirinya sendiri.
Sejatinya, apa yang diperebutkan manusia di dunia ini selain kebaikan itu sendiri (amal) sebagai bekal di kehidupan selanjutnya, kecuali orang yang tidak mengimani hari kebangkitan setelah kematian.
Berlomba-lomba lah dalam kebaikan. Hal ini terkadang disalahgunakan. Berlomba-lomba bukan atas nama kebaikan lagi, tetapi kepada sesuatu yang buruk bahkan dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan (dari cahaya kepada kegelapan).
Salah satu hal yang dapat menjadi pemicu pertikaian manusia adalah dunia (materi) dan tertipu olehnya. Akhirnya berdampak terhadap akal dan batin yang dikuasai oleh hawa nafsu semata. Memandang orang lain kaya menjadi iri bahkan menimbulkan kedengkian yang terkadang dimulai dengan cara memfitnahnya, menjelekkan namanya, bahkan sampai beradu fisik hingga dapat menciderai nilai-nilai kemanusiaan.
Berapa banyak orang iri terhadap jabatan, kekayaan, atau kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki orang lain ? Hal itu wajar-wajar saja sebagai pengalaman manusia hidup di dunia. Tetapi terkadang hal itulah yang menjadi penyebab kehancuran dunia.
Iri kepada jabatan orang lain, sehingga memiliki harapan yang sama untuk bagaimana bisa seperti orang lain tersebut. Sehingga apabila manusia yang sekedar fokus kepada jabatannya, maka tidak menutup kemungkinan segala cara akan dilakukan untuk mendapat jabatan yang ia inginkan bahkan cara yang dilakukan adalah cara yang salah.
Mungkin jabatan yang diinginkannya hanya ingin dijadikan sebagai salah satu alat dirinya untuk dikenal banyak orang, untuk dihormati orang, bahkan untuk mendapatkan kekayaan pribadi darinya, sehingga lupa amanah yang harus diemban dan dilakukan. Tujuan jabatan berubah menjadi tujuan pribadi, bahkan berubah menjadi tujuan buruk yang semakin tidak disadari menjadi kebiasaan di kalangan manusia.
Mungkin manusia demikian menganggap bahwa jabatan adalah satu-satunya cara mendapatkan ketenaran, padahal itu salah. Tidak hanya jabatan yang membuat manusia bisa tenar di mata manusia, tetapi juga bisa dengan menjadi rakyat biasa tetap bermanfaat bagi manusia lainnya.
Justru jika dibalik, maka jabatan itulah yang membuat manusia semakin rentan dengan kehancuran dirinya sendiri apabila tidak mampu bertanggung jawab secara serius dan semaksimal mungkin.
Tulisan ini bukan tidak setuju dengan manusia yang inginkan jabatan, tetapi lebih pada persoalan tujuan yang lebih jelas dan lebih benar. Jabatan boleh dikejar dan diraih di manapun dan oleh siapapun, tetapi tujuan mendapatkan jabatan itu untuk apa? Hanya untuk ketenaran semata? Hanya untuk kekayaan pribadi? Bahkan hanya untuk dihormati dan dipandang banyak orang dan lupa tanggung jawab?
Akhir kata, bahwa manusia yang memiliki prinsip kokoh dalam hidupnya, ia akan tetap berdiri tegak di atas kebenaran, ia tidak akan mudah diombang-ambing oleh sebuah ketidakjelasan hidup bahkan tidak mudah diterjang kehancuran.
Mengutip firman Allah, bahwa sesungguhnya kemuliaan kalian di sisi Allah tergantung dari bagaimana ketaqwaan kalian kepada Allah.
Mengutip Imam Ibnu Atha'illah dalam Kitab Hikam, bahwa ketika Allah ridho dan cinta kepada Hamba-Nya, maka Allah sendiri yang akan memperkenalkan hamba yang dicintai-Nya tersebut kepada semua makhluk-Nya di muka bumi ini.
Semoga sedikit tulisan yang masih banyak kekurangan ini bisa bermanfaat dan menjadi hikmah bagi manusia yang haus akan kebijaksanaan dalam kehidupan, amin.
Sampang, 22 April 2023 M. #Dalam_Hidup
Komentar
Posting Komentar