Nanti Kita Ceritakan Tentang Senyum yang Sempat Kita Perjuangkan
Oleh: M. Rozien Abqoriy, aktivis Mahasiswa
Dalam setiap usaha selalu terbungkus dengan bagian dari perjuangan hidup. Saya ingin sedikit banyak bercerita, tentang sebuah perjuangan untuk menggapai suatu kebahagiaan, dan itu bisa tentang banyak hal. Semisal tentang cita-cita, orang tua, Pendidikan, sampai kepada seseorang yang yang selalu ingin kita perjuangkan.
Dalam setiap perjuangan, yang mesti kita sadari adalah tidak semuanya perlu adanya pembalasan, atau yang sering kita istilahkan “perjuangan yang tidak mempunyai keinginan untuk dapat dibalas dengan sesuatu yang sama”. Jika hal ini yang kita sadari, maka dalam kehidupan di dunia, niscaya kita akan lebih tenang dan lebih mudah untuk bahagia. Sesuai dengan judul yang saya tulis, adalah tentang sebuah senyum yang senantiasa diperjuangkan adalah hasil sebuah kisah seseorang yang sedari awal menjalani sebuah cerita bersama orang-orang terdekatnya, yang sama sekali tidak terlintas sedikitpun untuk persoalan yang perlu sama, atau usaha untuk diberikan tentang perasaan yang sama.
Kemudian, kita juga analogikan dengan mengartikan cinta yang sebenarnya. Cinta kepada sesama umat manusia, orang tua, sahabat maupun seorang perempuan itu pada khususnya, selalu kita terjemahkan sebagai sebuah hubungan yang harus saling memiliki kesamaan, keinginan yang sama, kesukaan yang sama, dan lain sebagainya. Akan tetapi terkadang kita juga lupa memahami, bahwa sejatinya cinta adalah ia yang mmeberikan tindakan ataupun usaha tanpa sedikitpun berkeinginan untuk menerima balasan yang sama, keuntungan yang sama. Karena kenyataannya juga, cinta itu adalah cinta yang tanpa pamrih. Cinta adalah ketika kamu merasa ingin yang terbaik untuk orang itu, denganmu atau tanpamu. Kamu ingin dia menjadi pribadi terbaiknya dan terbang sebebas-bebasnya, denganmu atau tanpamu.
Saya mulai tertarik dengan pemaknaan cinta dari salah seorang berdarah Jawa dan Sunda yang sangat menyukai kegiatan tulisan menulis ataupun literasi, yaitu Zhafir Akalanka, dalam suatu tulisannya yang membuat saya kembali memaknai dan menerka-nerka, yaitu “Keromantisan cinta bagiku kini justru berasal dari kesediaan untuk menunggu; kesediaan untuk Lelah; kesediaan untuk berkorban; kesediaan melihat dan mendengar; kesediaan untuk berjuang dan bersabar; kesediaan membangun dan merawat; kesediaan untuk bertahan dan menguatkan; kesdiaan memberi dan menerima; kesediaan untuk rela namun menjaga; mendahulukan ikhlas dan ridha pada apapun ketetapanNya, tapi tetap teguh bertanggung jawab pada komitmen memberikan yang terbaik untuknya. Bagiku cinta yang sesungguhnya betul-betul kontradiksi; Ia tidak terdapat dalam kesenangan sebuah situasi; Ia juga tidak terdapat pada kemewahan duniawi; Ia justru terletak pada ketidaksempurnaan; ketidakbahagiaan; kesakitan; yang sanggup atau tidak kita nikmati”.
Kata-kata tersebut, selain membuat saya memaknai, mengkorelasikan, menganalogikan, dan mengibaratkan kepada sesuatu yang lain, ternyata hal tersebut pun sangat relate dengan beberapa sendi-sendi kehidupan. Seperti kita dalam memperjuangkan Pendidikan, sejatinya yang sering kita rasakan hanyalah kebosanan, dan sulitnya melawan rasa malas. Seperti juga dalam pekerjaan, yang sering kita rasakan adalah tidak jauh beda juga dengan contoh yang sebelumnya, kebosanan, malas dan sulitnya untuk mengatur semangat dalam berusaha untuk tetap terawat dengan baik. Selain itu, cinta pun masih sangat banyak yang dapat kita maknai ke dalam berbagai elemen hidup, seperti dalam kepemimpinan dan lainnya.
Begitupun seorang ulama atau habaib kelahiran Turen, Malang yaitu Habib Abdul Qadir Ba’abud pernah juga menyebutkan ketika ia sedang berdakwah tentang keadaan orang yang sedang jatuh cinta, beliau mengatakan “keadaan orang yang jatuh cinta itu adalah selalu menginginkan kekasihnya dalam keadaan bahagia. Sampai ada seorang penyair mengatakan bahwasanya walaupun kau pergi dari dariku, kau tidak bersamaku, kau menyiksaku, aku tetap cinta kepadamu. Pencinta hakiki adalah ia tetap cinta meski yang ia cintai adalah orang lain. Ia sudah melupakan, ia sudah menjauh, tapi ia akan tetap cinta. Kenapa ? Karena keinginan jiwaku hanya ingin melihat engkau selalu dalam keadaan bahagia disetiap saatnya, bersamaku atau bersama orang lain”.
Saya dapat banyak belajar dan memahami, tentang pengertian yang terbingkai dalam “cinta”, bahwasanya ruang lingkupnya dalam kehidupan begitu cukup luas, dan hal itu saya membaca tentang sebuah catatan dari seorang bung karno yang menyebutkan bahwa “Nasionalis yang sedjati, jang nasionalismenya itu bukan timbul semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme barat akan tetapi timbul dari rasa tjinta akan manusia dan kemanusiaan”. Lagi-lagi adalah tentang penanaman cinta yang begitu penting untuk melakukan dan memberikan suatu tindakan pada apapun sehingga dapat kita ceritakan tentang senyum yang sempat kita perjuangkan.
Semoga catatan kali ini membuat saya semakin sadar dan lebih belajar kembali untuk selalu mengambil banyak hikmah dari setiap kehidupan yang akan atau sedang terjadi. Begitupun kepada pembaca harapannya juga semoga dengan tulisan yang masih penuh usaha untuk mencapai kesempurnaan dapat bermanfaat, amin.
Komentar
Posting Komentar