Gaya Komunikasi Organisasi Kemahasiswaan, Orientasi Recruitmen: Perkembangan Atau hanya Penumpukan?

Oleh: M. Rozien Abqoriy, aktivis mahasiswa KPI IAIN Madura
Seperti pada umumnya yang kita ketahui, bahwa manusia secara biologis adalah manusia yang diklasifikasikan sebagai Homo sapiens ( Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Selain itu, manusia juga merupakan sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Dalam hidup, setiap orang perlu berinteraksi dan membutuhkan bantuan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti yang pernah dinyatakan oleh filsuf dan ilmuwan Yunani Kuno yaitu Aristoteles bahwa manusia adalah Zoon Politicon, yaitu selain makhluk individu, manusia merupakan makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain. Nah dalam hal ini sering kita dapat mengenal tentang komunikasi, setiap manusia termasuk makhlus sosial tadi adalah makhluk yang tidak akan pernah lepas dari komunikasi, baik kepada diri sendiri, komunikasi kepada Tuhannya, sampai kepada sesame jenisnya. Karena melalui komunikasi manusia akan mampu memberikan pertukaran sebuah informasi antara satu sama lain.

Setelah kita memahami, tentang bagaimana hakikat manusia sebagai makhluk sosial, seperti contoh yang banyak juga kita dengar salah satunya dalam artikel Ruang Guru yang ditulis oleh Nurul Hidayah dengan judul “Hakikat Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Contohnya” yang disebutkan salah satu contohnya adalah berkolompok. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena pada diri manusia terdapat dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, setiap manusia juga pasti memiliki kebutuhan sosial untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Nah, kebutuhan untuk hidup berkelompok atau berteman dengan orang lain terbentuk atas beberapa faktor. 

Beberapa faktornya yaitu karena adanya kedekatan, kesamaan ciri atau kepentingannya masing-masing. Misalnya, seseorang yang berprofesi sebagai Mahasiswa, lebih cenderung untuk mencari teman sesama Mahasiswa lagi. Contoh kelompok sosial lainnya, yaitu dalam kampus seperti organisasi intra maupun extra atau juga komunitas pecinta hewan.

Nah ketika berbicara dan sedikit menyinggung dari sebuah kelompok yang ada didalam kampus, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa, kita juga akan lebih banyak mendekati kepada organisasi kemahasiswaan. Nah sejauh ini apa yang sering kita dapat fahami dalam organisasi yang ada di dalam kampus atau yang sering mahasiswa ikuti ? 

Tentunya dalam organisasi juga tidak akan lepas dari yang Namanya komunikasi, dengan oreintasinya masing-masing. Kemudian dalam komunikasi yang kita kenal yang berada dalam organisasi tidak lain adalah untuk mengefektifkan roda organisasi antara komunikasi dari atasan dan bawahan untuk mencipkan salah satunya keharmonisan ataupun memberikan suatu solusi dalam suatu persoalan.
Begitupula yang ada dalam organisasi kemahasiswaan, semisal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) yang memiliki gaya komunikasi, tujuan, dan ciri khasnya yang berbeda-beda, termasuk yang berada dalam extra kampus yang bercirikan agama ataupun budaya seperti HMI, GMNI, PMII, GMKI dan seterusnya. 

Komunikasi dalam organisasi menjadi hal penting untuk menciptakan kesamaan pemahaman atas informasi yang disampaikan satu sama lain. Dalam mengartikan komunikasi organisasi kita selalu menemukan banyak jawabanny tersendiri, salah satunya tentunya untuk pertukaran pesan dalam setiap hubungan unntuk menerima maupun mengirimkan pesan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah.

Dalam hal ini juga saya ingin menarik kepada gaya komunikasi apa yang sering digunakan oleh organisasi kemahasiswaan untuk setiap regenerasi setiap periodenya ? Karena kebanyakan yang tidak jarang juga kita lihat, praktek dari teman-teman organisasi mahasiswa itu menggunakan komunikasi persuasive untuk merekrut anggota – anggota baru yang tidak jarang juga kita lihat sebagai suatu ajakan dengan cara yang agak sedikit ekstrim (dipaksa, ditawarkan hal-hal yang menjanjikan, tuntutan dll). Tidak menutup kemungkinan juga bagian dari organisasi kemahasiswaan itu menggunakan komunikasi propaganda dan opini public untuk yang pertama adalah membranding dan menggiring opini dari setiap mahasiswa, terkhusus mahasiswa baru.

Salah satu praktik yang digunakan dalam komunikasi propaganda adalah dengan melalui media massa, Peran media massa dalam propaganda bisa dikatakan sangat efektif. Seperti pada masa kepemimpinan Soeharto atau yang sering kita sebut yaitu orde baru. Di era orde baru, pers sangat terkekang dan diawasi pemerintah tujuannya agar tidak membuat sebuah bacaan pada masyarakat yang membahayakan kedudukan pemerintah waktu itu memang bisa membuat kondisi lebih kondusif dan aman akan tetapi itu merupakan pembodohan publik. Sudah terbayangkan seberapa berpengarus media massa terkhusus untuk melakukan praktik propaganda ?. 

Selanjutnya kita beralih kepada bagaimana opini publik itu dapat terbentuk melalu metode propaganda ini, Timbulnya opini public meliputi dua sebab, yakni direncanakan dan tidak direncanakan. Opini public yang tidak direncanakan tentunya keluar tanpa tujuan yang direncanakan. Kalau Opini publik yang direncanakan, maka keorganisasian, media, target tertentu yang menjadi sasaran jelas di sini. Munculnya untuk mempengaruhi opini publik yang sudah berkembang di masyarakat. Seperti yang banyak sudah terjadi, dari pasca lengsernya Soeharto dan masa keperesidenan Habibie yang datangnya dari beberapa kelompok elit yang berusaha untuk mempengaruhi publik dengan data, pengetahuan dan pengalamannya. Terbukti bahwa opini publik dapat diciptakan, diarahkan dan direncanakan secara baik pula. Tapi yang saya ingin lebih fahami adalah tentang bagaimana organisasi memberikan gaya komunikasi dalam merekrut anggota, seperti judul yang saya tulis, oreintasinya murni untuk merekrut demi kemajuan organisasi, perkembangan sampai dengan kemajuan? Atau hanya sekedar penumpukan yang tidak menghasilan output yang jelas dan terasa jauh dari perbaikan? 

Komunikasi yang terjadi seringkali menggunakan komunikasi persuasif. Secara teori persuasif adalah komunikasi antar individu. Tujuannya adalah diharapkan dapat mengubah pola pikir yang mana pola pikir ini membuat komunikan mengubah sikapnya terhadap pesan apa yang diterimanya. Namun yang terjadi seringkali jauh dari idealnya komunikasi persuasivf yang kurang tepat atau kurang relevan dengan tujuan dari keorganisasian. Seperti ketika perekrutan, mestinya menyesuaikan dengan Amanah yang sudah diberikan oleh setiap organisasi. Mengembangkan, dan memberikan yang terbaik kepada setiap anggota yang diajak. Tapi saat ini, terkesan masih lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Sehingga istilah yang dapat saya berikan adalah hanya sekedar penumpukan, namun output yang dihasilkan daripada organisasi khusus kemahasiswaan tidak terlalu nampak.

Rasanya, setiap organisasi hari ini harus mengevaluasi maksud dan tujuan serta tanggung jawab apa yang perlu diberikan dari komunikasi yang sudah dijalankan, lebih-lebih ketika orientasinya untuk perekrutan. Apakah itu untuk perbaikan, perkembangan dan kemajuan ? Atau hanya penumpukan? 
Dalam salah satu artikel 123doc.com yang berjudul “Analisis Strategi Komunikasi Dalam Perekrutan Anggota Baru” itu menyebutkan bahwa menggunakan strategi komunikasi secara langsung (face to face) dan komunikasi tidak langsung (media). Secara langsung itu bisa melalui pertemanan, kekeluargaan dan kekerabatan. Kalau yang secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan media informasi melalui spanduk, pamflet yang dibuat oleh kader dan disebarkan kepada mahasiswa di kampus.

Yang banyak perlu diperhatikan, ketika cara-cara ajakan ataupun sosialisasi itu dilakukan dengan sebaik mungkin, yang banyak perlu disadari adalah dalam komunikasi itu setidaknya tidak ada yang menggunakan kalimat ataupun ajakan yang menyalahi nilai-nilai syariat agama, kebersamaa, kebaikan maupun nilai-nilai kemanusiaan. Jika terdapat yang seperti itu, selaku mahasiswa dan calon dari anggota organisasi harus lebih dini menanamkan kesadaran tentang penilaian mana yang baik untuk perkembangan dan kemajuan secara personal dan masa depan bangsa, kemudian mana yang layak untuk tidak perlu ditanggapi.
Tulisan yang masih penuh dengan harapan untuk menjadi sempurna selalu menanamkan pengharapan yang lebih untuk bisa menjadi yang lebih baik, terlebih dapat memberikan nilai-nilai kebermanfaatan kepada pribadi maupun pembaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi