Mengincar Uang dan Kekuasaan Atas Nama Eksistensi Semata di Balik Gedung Pendidikan

Oleh: Syuhud Syayadi Amir, Manusia Kesepian.


Entah tiba-tiba saya ingin menulis apa yang sering terselip di balik kekhawatiran terhadap gedung-gedung pendidikan hari ini dan manusianya.

Kekhawatiran itu terjadi sejak lama sekali dalam pikiran saya. Tetapi yang menjadi sepintas dasar adalah apa yang disampaikan Imam Ghazali dalam Kitabnya Ihya Ulumuddin terkait "akan tiba pada suatu masa dimana manusia akan banyak yang menulis kitab-kitab (intelektual) tetapi di balik semua itu ada uang".

Dasar yang ke dua adalah lingkungan sekitar yang menunjukkan adanya kegelisahan hidup dan memuarakan kegelisahannya tersebut kepada uang, bahkan menjadikan alat utamanya adalah dengan cara berpendidikan.

Tetapi bukan itu maksudnya (prioritas ilmu) melainkan tujuan awalnya adalah uang, uang, dan uang. Lantas, benarkah tujuan utama pendidikan adalah uang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kiranya perlu kita mendaur ulang apa yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia, yaitu tujuan pendidikan adalah kemerdekaan dan kebahagiaan manusia.

Jika demikian, maka wajar jika uang dijadikan sebagai tujuan awal mencari ilmu pengetahuan asalkan dengan harapan mampu memanusiakan manusia. Tetapi, khawatir hal itu tidak terjadi sehingga hanya menjadi cita-cita murni tetapi meninggalkan cara terbaik untuk mendapatkannya.

Salah satu contohnya adalah tidak peduli terhadap kehidupan orang lain dengan alasan fokus sama kehidupan dirinya sendiri mengejar uang. Bahkan lebih mirisnya lagi jika untuk mendapatkan uang tersebut dengan cara merampas hak orang lain (korupsi).

Mungkin hal itu harus selalu dijadikan renungan panjang yang disertakan juga solusinya bagi keberlangsungan hidup manusia dan kesejahteraannya.

Solusi daripada kekhawatiran sementara ini mungkin hanya membutuhkan kesadaran kolektif dari setiap individu manusia lebih-lebih bagi manusia yang mengenyam pendidikan. Kesadaran terkait apa? Kesadaran sebagai manusia, sebagai makhluk, sebagai hamba yang menjalankan tugas kepemimpinan di muka bumi ini (makhluk sosial).

Selain kesadaran, diperlukan juga usaha nyata demi menyelesaikan persoalan ini. Mungkin dengan kesungguhan mengkaji ilmu pengetahuan dan mengaplikasikannya kepada masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih (uang, dsj.)

Solusi selanjutnya adalah strategi paling cepat dan akurat untuk melakukan revolusi besar-besaran dalam mengubah mindset masyarakat dan mengembalikannya kepada manusia yang fitrah, manusia yang menyadari sisi kemanusiaan dirinya sendiri dan mampu memahami sisi kemanusiaan orang lain dan berjuang bersama-sama demi kesejahteraan umat manusia.

Kata Rumi "harga dirimu lebih mahal dari dunia dan seisinya". Lantas, kenapa manusia sering dibutakan oleh dunia yang harganya jauh lebih rendah dari dirinya sendiri?

Semoga sedikit tulisan ngayal ini bermanfaat khususnya bagi saya sendiri dan bagi para pembaca yang budiman, amin.

Pamekasan, 23 Mei 2023 M. #Dalam_Hidup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi