Mengurai Makna Organisasi Kemahasiswaan dalam Membentuk Opini Publik



Oleh: M. Rozien Abqoriy, MHS aktif KPI IAIN Madura, anggota PMP



Menarik sekali jika kita dihadapkan dengan sejumlah organisasi kemahasiswaan yang terdapat di dalam kampus maupun di luar kampus. Tentunya dari beranekaragamnya organisasi yang ada, selalu memiliki ciri khas dari setiap kelembagaan organisasi tersebut untuk membentuk sebuah opini publik, terkhusus lagi yang ada didalam masyarakat akademik. Makna apa saja yang tersirat ataupun tertulis oleh sejumlah organisasi tersebut, sehingga dari kalangan masyarakat akademik dan non akademik dapat lebih memahami terkait tujuan apa yang sedang kelembagaan organisasi itu inginkan.

Pada tulisan kali saya ingin memaknai sedikit lebih banyak terkait makna opini publik dan sejumlah ciri khas apa saja yang diberikan oleh organisasi. Ketika kita mengingat pada saat masa-masa Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), tentunya dari kalangan temen-temen organisasi menggunakan banyak ciri khas serta metode untuk bagaimana dapat membuat mahasiswa baru tertarik untuk masuk ke-dalam organisasi yang memiliki beragam cara yang digunakan, misalnya dengan cara yang halus, sedang-sedang saja, atau bisa dengan cara yang agak ekstrem, tujuannya untuk membuat mahasiswa baru bisa bergabung dengan cara memilih terlebih dahulu cara apa yang mereka sukai.

Nah dalam hal ini, penting juga tertanam kesadaran dan prinsip yang kokoh bagi kalangan mahasiswa baru, sehingga ketika mereka dibuat tertarik oleh kaum organisatoris untuk bergabung, mereka sudah ada prinsip yaitu untuk mengembangkan potensinya di bidang yang sesuai dengan organisasi yang akan ditempati, tidak lain hanya untuk membantu mengembangkan skill, menambah pengalaman dan pengetahuan serta menjadikan semua itu sebagai bekal ketika masih dalam dunia kampus untuk kehidupan yang lebih nyata pada saat sudah dinyatakan lulus atau wisuda.

Pertama, sebelum membahas lebih jauh alangkah baiknya kita mengetahui dari salah satu cara yang dipakai oleh kalangan organisasi adalah mendapat dan mengarahkan mahasiswa yaitu dengan istilah “opini public”. Sehingga dirasa perlu untuk kita mengetahui apa itu opini publik dan arahnya kemana, kemudian bagaimana cara kerjanya.

Opini publik secara umum diartikan sebagai pendapat umum. Sedangkan menurut seorang tokoh terkemuka dalam sejarah sosiologi Amerika yaitu Emory Stephen Bogardus menyatakan bahwa opini publik adalah merupakan hasil pengintegrasian pendapat berdasarkan diskusi yang dilakukan dalam masyarakat demokratis. Pernyataan ini bisa kita artikan bahwa opini publik berdasarkan pendapat yang sengaja disatukan dengan menyadari dan menyesuaikan nilai-nilai demokratis itu sendiri. Kira-kira ketika kita melihat kembali dalam dunia kampus di kehidupan mahasiswa yang akan atau sedang berorganisasi tentu mereka melakukan komunikasi yang aktif untuk mengintegrasikan pendapat sehingga sebagian dari mereka memilih berorganisasi dan sebagian juga ada pengintegrasian pendapat yang memilih tidak berorganisasi yang terpenting itu tidak menghilangkan nilai-nilai demokratis yang sudah ada dan dijalankan serta difahami sebagaimana mestinya.

Sebagai bentuk masyarakat yang menegakkan nilai – nilai demokratis diantaranya adalah selalu memilih menggunakan akal sehat dan hati nurani yang luhur ketika melakukan musyawarah. Artinya ada keterlibatan emosional dan akal yang perlu disiapkan dan dipelajari, sehingga apapun yang menjadi pilihan tidak berdasarkan paksaan (hati nurani) dan ajakan hanya jaminan kekuasaan (akal sehat). Pahami tujuannya, cermati kesesuaiannya antara keinginan diri sendiri dan keinginan orang lain. 

Dalam organisasi tentunya selalu memiliki ciri khasnya dalam metode komunikasinya yang kita kenali sebagai karakteristik komunikasi organisasi. Karakteristik komunikasi organisasi yang ada dalam bukunya Zaenal Mukarom yang berjudul “Teori-Teori Komunikasi” itu disebutkan diantaranya;
A. Interaksi yang dinamis melalui pertukaran makna diantara unit-unit organisasi
B. Pengaturan hak, kewajiban, tugas, wewenang, peran dan fungsi
C. Distribusi kekuasaan
D. Adanya orientasi dan tujuan yang sama

Kemudian, perlu kita fahami juga terkait teori komunikasi organisasi adalah tentang teori perilaku, bahwa ada tidaknya, baik buruknya suatu organisasi itu tergantung dari sikap atau kelakuan para anggotanya. Salah seorang penganut teori ini yang terkenal adalah Herbert A. Simon, Ia adalah peneliti psikolog kognitif, administrasi umum, ekonomi, dan filsafat yang berasal dari Amerika. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah sistem orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. 
Masalah organisasi terpenting menurut penganut teori ini adalah bagaimana membuat para warga organisasi itu bersikap, berfikir, dan bertingkah laku sebagai manusia organisasi yang tepat. Barnard juga menyatakan bahwa kewenangan merupakan suatu fungsi kemauan untuk kerja sama.

Hal yang dapat kita petik dari pemikiran Barnard adalah; 
1. Memahami pesan
2. Percaya bahwa pesan tersebut tidak bertentang dengan tujuan organisasi
3. Percaya pada saat memutuskan untuk kerja sama, pesan yang dimaksud sesuai dengan minatnya
4. Memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan pesan.

Dari pesan - pesan itu kita akan dapat menghasilkan makna-makna opini publik yang akan diberikan oleh organisasi melalui opini yang sudah dipahami sebagai jawaban atas pertanyaan ataupun permasalahan yang dihadapi dalam satu situasi tertentu. Meskipun validitasnya lebih tipis dibandingkan dengan pengetahuan positif, tapi opini atau pendapat lebih akurat daripada dugaan. Opini adalah expressed statement yang dapat diucapkan dengan kata-kata yang mengandung arti dan mudah untuk dipahami maksudnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi