Merayakan 02 Mei untuk Umat Manusia

Oleh: Syuhud Syayadi Amir, pendosa yang selalu inginkan kebaikan dan kebahagiaan bersama.
Matahari masih sama seperti biasanya, ia masih terbit dan terbenam setiap hari. Rembulan pun sama. Tetapi ada banyak pepohonan hijau semakin memudar, musim tak lagi menentu dengan tertib seperti sebelumnya, bahkan ranting-ranting mulai berguguran jatuh setelah kering, tidak ada penggantinya, semakin sulit menemukan bibit-bibit kehidupan.

Perenungan kepada hidup indah dalam kebersamaan sudah semakin hangus dari peradaban manusia. Gotong royong kata Soekarno sudah semakin jauh dari akarnya. Sepertinya, manusia akan memasuki alam kesendirian, alam dimana jasad hanya berpandang fisik, jasad hanya menyentuh kulit, jasad hanya terombang-ambing sesuatu yang bisa lenyap seketika.

Pendidikan seperti sudah kehilangan ruh kemanusiaan. Hanya rentetan gedung-gedung sekolah yang lebih memprioritaskan administrasi berupa kertas tak berdaya. Saling sapa kasih sayang, saling tegur kemanusiaan, saling mempengaruhi kebaikan melalui kecintaan, kemurnian hati, dan kepribadian yang jujur terasa semakin jauh dari kenyataan.

Semua mata berfokus kepada gemerlap dunia. Mentereng angka-angka uang, mentereng rumah-rumah mewah, mentereng pakaian mahal, sepeda, mobil, jabatan, tetapi kumuh dan berlumut jiwa-jiwa yang hidup. Mendekati kerusakan, mendekati kematian jiwa, mendekati binatang hidup di alam manusia.

Lomba-lomba kebaikan tak lagi menarik, mempertontonkan shalat, puasa, haji, zakat, serta amal baik lainnya hanya terkesan ingin diperlihatkan, lenyap dari air mata kesendirian hanya bersama Allah semata. Terpajang tasbi di camera, terpajang sorban, kerudung, tasbih, kopiah hanya di camera depan dan belakang. Tetapi diam-diam, semua hari dihinggap riya', sombong, iri, takabbur, bahkan dengki kepada sesama manusia.

Miskin akan kehilangan saudara, teman, bahkan harga diri, menuai banyak ocehan, bahkan dipandang sebelah mata. Manusia hanya menjadi produk kosmetik yang kehilangan perasaan.

Prasangka buruk selalu hadir lebih awal dibandingkan baik sangka. Kehilangan perasaan, kehilangan akal untuk berpikir lebih luas dan jauh sebelum klaim kebenaran. Kebencian merajalela, angkuh, merasa paling benar sendiri dan persetan dengan urusan orang lain (kemanusiaan). Kalimat-kalimatnya yang selalu terdengar adalah "yang penting hidup saya bahagia".

Lenturnya sifat kepemimpinan dalam diri setiap manusia sebagai pemimpin di muka bumi, pemimpin yang rela sakit demi kebahagiaan orang lain, pemimpin yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar demi kebahagiaan banyak orang.

Tetapi, matahari masih bersinar dengan terang, rembulan masih bercahaya dengan sejuk, dan alam masih bisa diajak bersahabat dengan baik, pepohonan masih bisa dirawat demi keindahan alam, sawah-sawah masih dihuni binatang kehidupan.

Tulisan ini saya tulis sebagai salah satu perayaan hari pendidikan Nasional, sebagai mengenang manusia-manusia pahlawan Indonesia, manusia yang mencintai bangsanya, manusia yang mencintai alam ini.

Semoga sedikit tulisan ini bisa bermanfaat bagi saya dan pembaca, karena tanpa manfaat, kita akan kehilangan pengamalan baik untuk seluruh umat manusia. Semoga menjadi padahal dan kebaikan bagi saya dan pembaca yang Budiman, amin.

Pamekasan, 02 Mei 2023 M. #Dalam_Hidup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi