Refleksi Miniatur Negara Sebagai Jawaban Masa Depan Bangsa
Oleh: M. Rozien Abqoriy, aktivis mahasiswa IAIN Madura
Miniatur negara adalah sebuah istilah yang tidak jarang kita dengar dan temukan, tekhusus dalam dunia Pendidikan. Miniatur negara sering kita dengar sebagai suatu kiasan untuk menggambarkan cerminan hidup bernegara dalam sebuah ruang lingkup Pendidikan, kita sebut sebagai kampus.
Ya, kampus adalah miniatur negara, seperti yang pernah juga disebutkan oleh salah seorang presiden mahasiswa Iqbal Harefa dari kampus Universitas Sumatera Utara tahun 2019 itu mengatakan bahwa kampus adalah miniatur negara, karena dari kampus akan lahir ekonom-ekonom muda, dokter dan teknokrat-teknokrat muda, terlebih juga pemimpin-pemimpin bangsa.
Tidak menutup kemungkinan juga akan lahir kebejatan-kebejatan yang lahir dari sebuah miniatur ini, yang tidak dapat menjalankan Amanah atau hanya sekedar melanjutkan kebiasaannya semasa kuliah. Seperti dokter yang tidak dapat menjalankan amanahnya sebagai dokter yang baik, dan seringkali menggunakan jabatannya hanya untuk meresahkan orang lain dan mengambil keuntungan untuk diri pribadi, terlebih juga seperti ekonom-ekonom ataupun pengusaha-pengusaha besar, melalui jurusannya semasa kuliah dibidang ekonomi dengan berbagai macam teori dan prakteknya.
Hanya karena ia melakukan praktek yang tidak cukup baik, memberikan kebiasannya hanya melalui orang-orang kita sebut sebagai orang yang licik, maka suatu saat ketika melanjutkan bidangnya di dibidang ekonomi atau pengusaha, maka ada kemungkinan ia juga akan melakukan praktek yang tidak akan jauh caranya seperti ia masih dimasa kuliah, dengan meraup keuntungan sebesar mungkin, dan melupakan orang lain yang sengaja atau tidak sengaja telah ia rugikan. Begitupun bagian bidang-bidang lain, itu hanya sekedar contoh dari apapun yang akan dihasilkan oleh miniatur negara tersebut.
Seketika saya membaca kembali bagaimana dapat menganalisa berbagai kemungkinan yang akan terjadi itu, atau hanya sekedar berfikir setidaknya untuk menjaga kemungkinan tersebut. Saya temukan dalam salah satu catatannya Ratna Sulistami dalam buku Universal Intelligence, itu memberikan sedikit banyak pencerahan, baik bagi saya, terlebih dalam dunia miniatur negara, individu maupun komunal lainnya.
Tentang beberapa hal apa saja yang perlu kita prioritaskan, dan beberapa hal yang perlu kita lakukan sampai kepada yang perlu kita perhatikan. Dalam buku tersebut dimulai dari beberapa pertanyaan sederhana, yang pengaruhnya juga cukup luar biasa bagi kita semua, yaitu tentang penyadaran dalam membenahi berbagai macam persoalan yang sebenernya belum kita fahami secara utuh, tapi kita sering melakukannya hanya karena sebuah ajakan, tuntutan, atau tanggung jawab yang sebenernya tidak perlu kita iya-kan semuanya.
Ada 5 pertanyaan sederhana tetapi jawabannya sering sulit kita untuk jawab :
• Siapa saya ?
• Bagaimana saya bisa menjadi begini ?
• Mengapa saya berfikir, merasa, dan bertingkah laku dengan cara ini ?
• Apakah saya bisa berubah ?
• Bagaimana caranya ?
Tidak terbayangkan kalau saja kita hidup di lingkungan orang-orang yang tidak saling mengenal dirinya. Dalam lingkup pekerjaan, seorang pekerja yang tidak memahami kelemahan dan kelebihan dirinya bisa menduduki jabatan yang tidak sesuai. Resiko awalnya, ia tidak dapat “menikmati” pekerjaannya. Imbasnya adalah kinerja yang tidak maksimal. Jika kemudian diperparah dengan pemimpin yang tidak tajam dalam proses seleksi, betapa banyak terjadi kelambanan dalam produksi, dan lambat laun, tak mustahil masa depan perusahaan akan hancur.
Ilustrasi tersebut banyak menggambarkan pada kita semua, sebegitu pentingnya kita mewaspadai beberapa hal yang kemungkinan tidak semestinya kita lakukan dan menghasilkan beberapa dampak yang cukup signifikan terhadap lingkungan sekitar maupun kehidupan.
Dari yang pertama, siapa saya ? Pertanyaan ini bukan hanya tentang bagaiamana kita menjelaskan sebuah identitas kita secara pada umumnya, bukan seperti siapa nama saya, alamat, hobby sampai tanggal lahir.
Tetapi bagaimana kita juga memahami jauh lebih dalam tentang makna diri kita sebenernya apa dan tugas saya sebenernya dalam hidup maupun lingkungan apa ? Sehingga kita juga akan mampu memberikan pemaknaan yang jauh akan lebih bermakna tentang kita ini sebenernya siapa ? Kalau dalam agama islam, sering kita mendengarkan bahwa manusia sebenernya diciptakan sebagai Khalifah fil ard dengan tujuan mulianya adalah untuk memperbaiki akhlak, yang melanjutkan pembawa agama islam itu sendiri yaitu Rasulullah atau Nabi Muhammad SAW.
Di dalam ayat Al-Qur'an juga sudah banyak disebutkan, dalam ayat-ayat shalat juga sudah sering kita sebutkan bahwa artinya tidak lain seperti ini “Shalatku, hidup dan matiku hanyalah untuk ALLAH atau sang pencipta alam”. Ini sebenarnya adalah sebuah gambaran penting bahwa penting sekali kita mengenali diri kita secara lebih dalam untuk mewaspadai kita dihidupkan di dunia, atau hanya sekedar kita di masukkan dalam dunia Pendidikan terkhusus dalam miniatur negara itu untuk apa, hanya untuk mengisi kekoongan waktu, menghabiskan banyak uang dengan berfoya-foya bersama sahabat, atau formalitas belaka dalam mendapatkan secarik kertas yang kita istilahkan dengan ijazah ?
Meereka ulang tujuang dan memaknai hal-hal yang perlu kita ingat tidak lain adalah untuk memperbaiki generasi-generasi yang sebentar lagi akan menggantikan posisi era selanjutnya. Dunia Pendidikan atau miniatur negara banyak mengajarkan kita tentang banyak hal dari banyaknya ilmu pengetahuan yang ada, dan kita dianjurkan memilih salah satu jurusan untuk menjadi kendaraan kita dalam menentukan hal-hal apa yang ingin kita fokuskan sebagai bekal masa depan. Sehingga dari berbagai macam teori yang kita terima sampai kita dapat praktekkan dilingkungan nyata, dapat bermanfaat untuk diri dan sudahkah juga dapat dirasakan dengan baik oleh lingkungan sekitar kita.
Selain tentang teori, kita juga disediakan banyak pengalaman menarik dan tak kalah jauh penting untuk kita terima dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pengalaman berorganisasi, pengalaman pengabdian masyarakat sampai pengalaman menjadi pengelola suatu kelembagaan komunitas ataupun organisasi yang kita sebut sebagai pemimpin.
Dari hal itu pulalah yang akan memberikan kita bekal, bagaimana praktek yang sering kita lakukan akan menjadi kebiasaan juga ketika kita sudah keluar ataupun lulus dalam kelembagaan miniatur negara itu. Pertanyaan-pertanyaan sederhana dari catatannya Ratna Sulistami itu dapat menjadi bahan renungan Panjang kita dan mampu kita jawab melalui berbagai macam cara, salah satu selalu mengevaluasi atau sekedar instrospeksi, untuk kehidupan, untuk masa depan.
Sebagai pemuda kita juga harus bisa sadar lebih jauh dan kalau bisa lebih cepat, karena selain kehidupan, perubahan selalu berjalan dengan cepat dan cukup dinamis dan Nasib bangsa kedepan selalu menjadi tanggung jawab kita semua. Kemudian tidak ada yang juah lebih baik daripada nilai-nilai kebaikan, kebersamaan, dan kemanusiaan yang menjadi pondasi atau pegangan kita kedepan dalam setiap rencana, dan tindakan apapun yang akan kita lakukan.
Hidup pemuda, hidup Pendidikan Indonesia.
Komentar
Posting Komentar