Internalisasi Gerakan Demokrasi dan Politik Nasional; Miniatur Negara Memiliki Peran didalamnya
Oleh : M. Rozien Abqoriy, Eksekutor PMP*
Kita ketahui bahwa demokrasi sejak dulu dalam bahasa Yunani itu berasal dari dua kata, yaitu demos yang artinya rakyat, kemudian kratos yang berarti memiliki sifat pemerintahan atau kekuasaan. Lalu kita kenali semua itu sebagai pemerintahan rakyat.
Tentunya, dibalik pengertian tersebut terdapat nilai-nilai yang perlu kita perhatikan bersama, untuk menjadikan suatu hal yang tertanam dalam diri masyarakat dan dapat dijadikan pegangan untuk kehidupan hari ini, selanjutnya dan seterusnya. Internalisasi nilai nilai itu perlu ada yang namanya gerakan serentak untuk kesadaran bersama. Namun sebelum itu, selain hanya pengertiannya yang kita tau, perlu juga memahami demokrasi yang telah kita anut khususnya di Indonesia. Kira-kira hari ini demokrasi yang seperti apa yang terlihat?
Sosok yang sering disebut sebagai bapak demokrasi dan presiden Amerika Serikat yang ke 16, yaitu Abraham Lincoln memberikan pengertian tentang demokrasi bahwa demokrasi ialah pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Lincoln itu memiliki pandangan bahwa demokrasi harus melindungi hak-hak minoritas, dilindungi serta dihormati. Sehingga demokrasi dapat memastikan bahwa setiap orang itu memiliki hak yang sama untuk diakui dan dihargai.
Setiap negara pastinya memiliki sistem demokrasi berdasarkan ideologi yang dianut negara tersebut. Indonesia ketika dilihat kembali, sebuah negara yang menganut demokrasi Pancasila. Alasannya ialah, karena Pancasila sangat berperan penting dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat. Dan demokrasi Pancasila ini kemungkinan dapat meningkatan rasa kekeluargaan dan gotong royong sehingga dapat memahami dasar-dasar tujuannya.
Adapun dasar-dasar tersebut diantaranya dapat mendukung unsur-unsur keadaan kepada keTuhanan yang maha esa. Kedua, dapat mendukung nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, dapat mewujudkan persatuan. Lalu keempat, mengutamakan kebijakan dalam bermusyawarah dan berdialog, dan yang terakhir ialah mewujudkan keadilan sosial.
Demokrasi Pancasila merupakan bagian dari sistem politik yang ada di Indonesia. Oleh karena itu masyarakat Indonesia sendiri perlu senantiasa untuk menanamkan setiap nilai yang ada dalam demokrasi tersebut.
Nilai-nilai demokrasi yang perlu ditanamkan, direalisasikan dan perlu diwujudkan diantaranya ialah pemerintahan yang bertanggung jawab, yaitu pemerintahan yang memiliki pemegang kekuasaan negara dapat atau mampu menerapkan prinsip jujur dan adil. Kedua, adanya lembaga perwakilan rakyat yang mendengar kehendak rakyat, artinya fungsi dari adanya DPR untuk mendengarkan aspirasi rakyat dan masyarakat dapat menentukan kebijakan yang baru. Ketiga, adanya organisasi politik, artinya tugas dan fungsi dari sebuah partai politik penting untuk sistem politik yang sehat dan kompeten serta partisipasi publik dapat lebih banyak. Keempat, adanya pers dan media yang bebas dan bertanggung jawab, artinya sebagai salah satu pengontrol pemerintahan. Dan kelima, sistem peradilan yang bebas untuk melindungi HAM dan keadilan, artinya demi dapat terselenggaranya negara demokrasi yang adil dan tentram.
Tentu dalam hal ini untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi juga perlu beberapa hal untuk diperhatikan oleh warga negara ataupun masyarakat pada umumnya. Kewajibannya ialah melaksanakan hak pilihnya secara bebas dan bertanggung jawab, menjaga keamanan dan ketertiban dalam pelaksanaan seperti pemilihan umum (pemilu), patuh dan taat pada tata tertib maupun undang-undang yang berlaku. Menghormati pendapat orang lain, mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang demokratis dan damai, menerima segala bentuk perbedaan , dan memahami, lalu menyadari, kemudian menerima persamaan kedudukan, harkat dan masrtabat manusia, serta mengembangkan sikap toleransi terhadap sesama.
Dari semua hal itu, kita dapat kembali menyadari bahwa fungsi dari demokrasi adalah untuk memberi kapasitas untuk memilih pemimpin rakyat dan pemerintahan secara bebas dan adil dalam Pemilihan Umum (Pemilu). Memberi perlindungan kepada setiap hak asasi warga negara. Lalu memberi kebebasan bagi individu untuk aktif berpartisipasi dalam politik sebagai warga negara serta menjamin adanya keikutsertaan rakyat dalam kehidupan bernegara. Dan yang terakhir adalah untuk menjamin tetap tegaknya negara Indonesia.
Kemudian karena demokrasi itu tidak terlepas dari yang namanya sistem politik, maka pemahaman terkait seperti apa politk nasional, khususnya yang ada di Indonesia kita perlu juga untuk mengetahui terlebih dahulu tentang ap aitu politik masional yang memiliki kaitan dengan kebiasaan atau budaya dalam perpolitikan.
Politik nasional itu merupakan asas, haluan, usaha serta kebijaksanaan negara tentang pembinaan, perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pengendalian serta penggunaan secara nasional untuk mencapai tujuan nasional. Dalam memahami dan mengaplikasikan politik nasional ini masih butuh yang namanya strategi politik. Adapun dalam strategi politik itu, ialah meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya serta pertahanaan dan keamanan.
Politik nasional juga tidak akan terlepas dari pengaruh budaya – budaya yang dianut oleh suatu negara yang akan membentuk suatu ciri khas dalam politik nasional atau Indonesia. Kita tau, bahwa budaya politik adalah representasi dari persepsi warga negara yang dituangkan dalam sikap dan perilaku terhadap masalah politik maupun peristiwa politik yang sedang terjadi. Dalam hal ini juga dipengaruhi oleh berbagai aspek dari kehidupan masyarakat seperti bisnis, keagamaan, ekonomi, hubungan internasional dan hubungan sosial masyarakat. Tentu dari politik yang dihasilkan dari budaya itu akan sangat menentukan terhadap kebijakan politik yang ada di Indonesia.
Salah satu guru besar ilmu politik Rusadi Kantaprawira itu menyebutkan bahwa ciri khas budaya politik di Indonesia atau politik nasional itu, diantaranya :
• Politik Parokial, yakni budaya politik yang bersifat kedaerahan (ruang lingkup yang sempit), dengan adanya partisipasi dari masyarakat tradisional
• Politik Kaula, yakni budaya politik di mana masyarakat bersikap pasif dan tidak bisa mempengaruhi atau mengubah sistem politik, serta hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah atau penanggung kekuasaan.
• Partisipan, yakni budaya politik di mana masyarakat aktif terlibat dalam kegiatan politik dan memiliki kesadaran politik yang tinggi.
Beberapa hal tentang budaya politik nasional itu kita mulai dapat memahami bahwa itu semuanya tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat dan pemerintahan atau dari pemegang kekuasaan. Namun dari hal ini pula kita dapat belajar lebih jauh lagi, terkait mekanisme dan hal-hal apa yang perlu kita ketahui sebagai masyarakat yang juga akan berartisipasi di ranah politik.
Karena yang kita tau juga, politik seringkali dianggap negatif yang disebabkan penyalahgunaan wewenang untuk melakukan politik dengan baik dan tidak sesuai dengan tujuannya.
Berbagai perilaku tidak pantas itu seakan menjadi kemorosotan atau antiklimaks moralitas politik yang dinamakan oleh pendiri bangsa. Namun, apakah politik pada umumnya sehina itu? Sekurang-kurangnya ada dua alasan untuk menempatkan politik sebagai bagian penting pergulatan hidup seorang warga negara, termasuk kita sebagai pemuda dan juga mahasiswa. Perlu juga kita memperhatikan secara utuh sebagai masyarakat dalam berpartisipasi di ranah politik.
Salah satu penulis di media Kompasiana yaitu Deditus seneng dengan judul “Perlu Keterlibatan dalam Dunia Politik” menjelaskan tentang dua alasan itu. Pertama, tradisi Helenisme kita belajar bahwa menjadi anggota polis (negara kota) dalam arti tertentu merupakan sebuah keniscayaan. Manusia mau tidak mau harus hidup dalam suatu masyarakat politik. Dalam bahasa aristoteles, manusia adalah zoon politikon, Manusia adalah makhluk politik. Apakah hidup bersama sebagai suatu masyarakat politik harus dibaca sebagai suatu takdir? Tidak demikian maksudnya. Status manusia sebagai makhluk politik yang harus menjadi warga negara tertentu tidak semestinya dipahami secara determinasi, sebagaimana seorang anak yang mau tidak mau harus menjadi anggota dari keluarga tertentu karena dilahirkan oleh orang tua tertentu. Dalam arti ini partisipasi dalam dunia politik memang penting untuk pemuda dan juga mahasiswa karena medium untuk ekspresi diri. Politik menjadi medan memperjuangkan berbagai ideal atau nilai-nilai oleh individu atau kelompok yang dipandang penting demi kemanusiaan.
Kedua, Keterlibatan aktif dalam politik menjadi penting karena dengan cara itu warga negara mendapat peluang untuk ikut mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan-kebijakan publik sesuai dengan ideal-ideal yang diharapkan. Bersikap a-pilitis berarti membiarkan diri untuk hanya ditentukan secara sepihak oleh orang lain. Dengan kata lain, sikap tidak peduli terhadap politik dan bahkan menjauhi politik berarti membuka peluang untuk mempertaruhkan hak-hak dasar serta nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan untuk hidup secara bermartabat sebagai manusia. Mengingat besarnya pengaruh politik pada nasib bangsa dan masa depan bangsa, keterlibatan kalangan mahasiswa dan juga pemuda dalam politik akan sangat bermanfaat dalam ikut mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan-kebijakan politik yang selaras dengan nilai-nilai pancasila.
Korelasi politik dengan demokrasi sangat berkaitan sekali. Karena hubungan antara budaya politik dan demokratisasi sangat erat. Budaya politik itu senantiasa memiliki pengaruh yang penting dalam perkembangan demokrasi. Sedangkan demokratisasi tidak akan berjalan baik apabila tidak ditunjang oleh terbangunnya budaya politik yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, yang sudah saya sedikit banyak cantumkan di awal tulisan ini yaitu juga tetang nilai-nilai demokrasi.
Dari pembahasan ini, kita tau selain masyarakat pada umumnya yang perlu untuk sadar dan memahami secara utuh tentang demokrasi dan ap aitu politik nasional, tentunya itu juga sangat membutuhkan keterlibatan pemuda dalam menjaga kestabilan dan kemajuan sebuah bangsa. Dibuktikan oleh Co-Founder Narasi yaitu Najwa Shihab mengungkapkan bahwa anak muda harus tau, bahwa 10 tahun ke depan mereka adalah generasi penentu negeri, pemimpin masa depan. Anak muda harus tau, bahwa penting membangun budaya yang membawa konteks bahwa anak muda mampu berkontribusi dalam partisipasi nyata di setiap solusi.
Oleh sebab itu, pemuda yang kita kenal sebagai generasi penentu itu adalah pemuda yang saat ini masih berada dalam proses Pendidikan, seperti di dunia kampus. Penentu dalam hal ini artinya bahwa sejak masa-masa kuliah atau kampus yang disebut sebagai miniatur dari sebuah negara itu telah cukup banyak melakukan aktivitas-aktivitas yang selaras dan hampir sama dengan pemerintahan yang ada di republik ini. Perihal demokrasi seperti apa kira-kira yang sudah dijalankan oleh kampus, itu merupakan cerminan kelak ketika sudah terjun langsung dilapangan atau masyarakat.
Sikap dan peran miniatur negara cukup penting dalam menentukan demokrasi di Indonesia kedepan dengan dapat mengembangkan sikap demokrasi dilingkungan kampus dengan baik dan sebagaimana mestinya. Sikap demokrasi disini artinya adalah sikap dimana kita saling menghargai, saling mendengarkan pendapat orang lain dan selalu mementingkan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan sendiri ataupun kelompok dan golongannya. Karena kampus merupakan tempat yang paling ideal untuk menciptakan keharmonisan dan keindahan dalam berdemokrasi. Cinta damai juga merupakan wujud dari demokrasi yang tidak ingin menang sendiri. Saling tolong menolong demi kepentingan kampus, masyarakat, negara bahkan dunia.
Kampus tidak hanya tempat menimba ilmu tapi juga demi mewujudkan amanat undang-undang dan keagamaan yang sebagaimana kita sudah terima. Sikap kebersamaannya juga bagian dari nilai-nilai demokrasi yang memiliki peran untuk membela kepentingan bersama di dalam kampus.
Hal-hal yang perlu diperhatikan mahasiswa dalam demokrasi dan perannya di dalam kampus itu telah digambarkan oleh Choriul Muttaqin di Kompasiana. Ia mengatakan bahwa peran birokrasi kampus itu menentukan demokratis tidaknya tatanan keorganisasian di tataran mahasiswa dalam perguruan tinggi. Segala bentuk politik seyogyanya dikesampingkan agar tidak terjadi polemik. Jika tidak, benih-benih jiwa demokratis yang diharapkan yang lahir dari perguruan tinggi hanya menjadi isapan jempol. Kita tau, bahwa terkadang mahasiswa ketika menuntut sebuah keterbukaan lagi-lagi di kebiri oleh kaum-kaum yang memiliki kepentingan pribadi ataupun golongan. Seakan-akan di sekat dengan tembok yang begitu tebal. sehingga kebiri ini pun terus terjadi bagaikan penjara di rumah sendiri "keterbukaan, kebebasan berekspresi, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan".
Saya sendiri selalu mengatakan terutama dalam setiap karya tulis saya bahwa praktek-praktek di dalam kampus untuk menerapkan nilai-nilai demokrasi itu sangatlah berdampak dalam demokrasi yang ada di Indonesia kedepan. Oleh sebab itu, mari rawat dan jaga bersama untuk menjadikan kampus kita itu dapat benar-benar ideal dan memberikan gambaran untuk demokrasi kedepan melalui berbagai warna yang kreatif dari pemuda atau mahasiswa itu sendiri. Bagaimanapun juga kampus adalah tempat-tempat kaum intelektual dan dapat menjiwai tridharma perguruan tingginya.
Semoga tulisan ini yang masih selalu dengan usaha untuk menuju kebermanfaatan dan kebaikan bersama, bisa memiliki makna yang luas untuk dapat kita aplikasikan bagi kita bersama.

Komentar
Posting Komentar