Menyelami Dunia di Lautan Bedebah
________
Oleh: Syuhud Syayadi Amir, Wakil Eksekutor PMP*
Aku hidup diantara bunyi yang bising. Suara keras yang menyakitkan. Suara yang ribut memperebutkan makanan dengan cara haram, tetapi masih menyuarakan kebenaran. Tidak salah, tetapi kurang tepat. Suara hari ini adalah suara rencana yang gagal dilakukan. Suara hari ini adalah suara kepura-puraan. Suara yang menyusun banyak harap tetapi seperti kehilangan gairah untuk melahap. Ramai tapi sepi di dalam kebenaran. Hanya menjadi suara penonton yang sok tau letak kesalahan pemain tetapi tidak tau cara bermain sendiri. Suara yang menganggap salah, tetapi enggan untuk menberikan solusinya. Bahkan masih dengan alasan suaranya tak didengarkan. Bagaimana mau didengarkan jika tidak pernah memulai bersuara tetapi hanya mengaku bersuara lantang demi kebenaran?
Tidak! Aku tidak mau menanggapi apa yang terjadi saat ini. Tetapi, aku hanya ingin menyelam jauh ke dalamnya dengan kata, kalimat, hingga bahkan suara yang tak bisa ku katakan, tetapi ingin ku tuliskan.
Hari ini adalah isi yang berantakan, isi yang menyadari dirinya sendiri, tetapi melupakan cara dan kerja untuk merapikannya. Kebanyakan istilah mengeluh tetapi tidak mau tangguh, merintih dan tak mau gigih, dan bermimpi indah yang tak pernah menjadi nyata.
Apabila isi itu bernama orang tua, maka wajarlah baginya. Tetapi jika berupa pemuda, maka renungkan saja masa depan bangsanya. Ini bukan perihal takdir bangsa yang dilepaskan dari usaha untuk memperbaikinya. Perihal takdir iya, tetapi usaha untuk dijadikan takdir indahnya kemana?
Di zaman ini, peran pemuda harus selalu dipertanyakan. Jangan terlalu jauh mempertanyakan perannya, tetapi dimulai sejak perannya untuk dirinya sendiri sebagai manusia. Siapa kita? Dari mana asal kita? Apa yang harus kita lakukan? Dan mau kemana kita selanjutnya?
Ternyata dalam penyelaman kali ini aku bertemu dengan segudang besi karat yang diberi nama emas. Harganya dimahalkan tetapi kualitasnya jauh dari harapan. Mungkin ini yang disebut sebagai pencitraan semata? Menampilkan segala sesuatu yang nampak indah, tetapi sebenarnya bedebah.
Apakah ini merupakan takdir yang harus dibiarkan terjadi? Atau memang kita yang memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin di muka bumi telah kehilangan gairah untuk memperbaiki generasi? Sudah tidak lagi peduli dengan dunia ini?
Lantas, apa yang mau diperbaiki? Kita punya banyak perspektif tentang kita dan alam ini. Melalui bangku-bangku sekolah yang kita rapikan setiap hari untuk belajar dan memahami segala persoalan yang terjadi. Masih kurangkah waktu sebanyak itu untuk memahami tahapan demi tahapan faktor masalah dan solusinya?
Perihal kesenjangan sosial, perilaku politikus, krisis ekonomi, dan lainnya. Seberapa banyak kebenaran baik dan buruknya yang terjadi saat ini? Jika lebih banyak buruknya, apa yang harus kita lakukan? Diam dengan pura-pura bijaksana atau bertindak tanpa memiliki perabotan apa-apa? Semua salah! Jawabannya adalah kemurnian yang masih bersarang di batin kita terdalam. Kejujuran dalam mengungkapkan yang sebenarnya.
Penyelaman ini boleh disebut sebagai kalimat atau tulisan apa saja. Karena pada hakikatnya, aku menulis bukan karena dikekang oleh sebuah istilah yang dirasa sudah tidak penting untuk diteruskan. Hanya tinggal sebuah istilah yang tak menghasilkan apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan kejujuran tentang pemuda hari ini adalah pemuda yang takut untuk memulai dan mengakui kekurangannya sendiri.
Tetapi, zaman kita masih berlanjut. Kita masih memiliki banyak kesempatan untuk menjadi pemuda yang menyadari kekurangan dan mau untuk belajar terus-menerus. Pemuda yang memiliki kepedulian terhadap dirinya sendiri, orang lain, bahkan kepada alam ini. Pemuda yang memiliki mimpi besar dan bertahan diproses mimpinya sampai akhir menutup mata. Sekalipun sudah mati, kita akan dikenang sebagai salah satu contoh pejuang kepada generasi kita selanjutnya dan kita akan dikumpulkan dengan orang-orang shaleh yang gugur di medan perjuangan.
"Hayatu al-fata illa al-'ilmi wa at-tuqa"
Pamekasan, 14 juni 2023 M. #Dalam_Hidup

Komentar
Posting Komentar