Modernisasi Cinta Perspektif Plato dan Mo-Tzu



Oleh: Syuhud Syayadi Amir, Wakil Eksekutor PMP*

____________

"Cinta itu perang, yakni perang yang hebat dalam rohani manusia. Jika ia menang, akan didapati orang yang tulus ikhlas, luas pikiran, sabar dan tenang hati. Jika ia kalah, akan didapati orang yang putus asa, sesat, lemah hati, kecil perasaan dan bahkan kadang-kadang hilang kepercayaan pada diri sendiri". - Buya Hamka


Seorang tokoh besar bangsa ini masih peduli terhadap generasi bangsa. Sebab, ia membahas perihal cinta dalam catatannya. Mungkin, dia memahami bahwa pemuda akan kehilangan arah murni jika di sebuah perjalannya dihinggapi rasa cinta yang berlebihan.


Buya Hamka membumbui rasa cinta manusia kepada sesuatu yang indah. Menggambarkan cinta juga kepasa sebuah kesesatan dalam menjalaninya. Sehingga, apabila manusia dapat memenangkan cintanya, maka ia akan menjadi manusia sempurna dengan ketenangan, keluasan pikirannya, bahkan kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Tetapi jika sebaliknya, maka manusia akan kehilangan semuanya.


Tere Liye menganggap cinta masih dengan tanggapan samar-samar, tetapi bisa direnungkan maknanya. Kata Tere Liye "cinta itu misterius, maka jangan terburu-buru, atau kau akan merusak jalanmu sendiri". Hal itu berkaitan erat dengan pernyataan Buya Hamka di awal, bahwa cinta akan berdampak pada kehidupan manusia, baik berdampak indah atau berdampak buruk bagi hidupnya sendiri dan orang lain.


Berbeda dengan Raditya Dika yang lebih memfokuskan cinta kepada saat setelah mengalami sakitnya. Bukan berarti tidak bahagia, melainkan dalam hal ini menunjukkan bahwa manusia apabila mengalami rasa sakit karena cinta, pasti definisi cinta dalam dirinya akan berubah dari yang sebelumnya. Kata Radit "cara dia melihat cinta, akan berbeda setelah patah hati itu".


Dengan demikian, kiranya perlu bagi kita untuk me-modernisasi cinta di zaman ini. Melihat kembali definisi cinta yang mulai berantakan dari praktik yang sesungguhnya. Antara kata, ucapan, dan prilaku mungkin tidak menggambarkan difinisi cinta saat sebelum atau sesudah mencintai.


Dalam me-modernisasi cinta, kita perlu melihat bagaimana Plato membagi pilihan cinta kepada tiga hal. Pertama, memilih keindahan fisik. Ke dua, memilih keindahan jiwa. Ke tiga, memilih keindahan kepada orang banyak.


Keindahan pertama bagi sang pemilih untuk mencintai adalah keindahan fisik, tetapi keindahan dan pilihan itu masih tingkat paling bawah untuk memilih mencintai. Sebab, fisik akan berubah seiring berjalannya waktu.


Keindahan yang ke dua adalah keindahan jiwa yang ada pada orang yang kita cintai. Keindahan ini akan lebih awet, karena keindahan jiwa itu sulit untuk berubah dan tetaplah menjadi keindahan yang abadi. Sehingga apabila kita memilih mencintai karena jiwanya, maka besar kemungkinan kita akan sulit kecewa.


Keindahan yang ke tiga adalah keindahan kepada banyak orang. Hal ini sebenarnya lanjutan dari keindahan yang ke dua. Apabila orang mencintai jiwanya, maka ia akan terlatih dan melatih dirinya untuk tetap mencari keindahan jiwa itu di banyak orang. Keindahan itulah yang dimaksud dengan keindahan yang akan berdampak baik pada sosial kemanusiaan.


Bicara perihal dampak sosial cinta, maka nyambung dengan cinta universal perspektif Mo-tzu. Ia menganggap cinta itu sebagai kasih semesta. Cinta itu harus bermanfaat bagi banyak orang. Itulah keindahan kasih semesta. Sehingga kasih semesta itulah yang paling baik untuk dilakukan oleh manusia.


Mo-tzo menganggap bahwa kasih semesta itu bersifat jangka panjang. Apabila manusia memperlakukan orang lain dengan baik, maka kebaikan-kebaikan itu akan terus mengalir dan bisa kita petik sebagai sebuah landasan mencintai orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KPM Kolaboratif Nusantara IAIN Madura dan Sosok Inspiratif

Lomba Kemenangan

You Are Special : Tetap Rawat Potensi, Rawat Generasi