Sistem Demokrasi Menghalalkan Segala Cara, Kampus Menjadi Perjumpaannya ?
Oleh: M. Rozien Abqory, Eksekutor PMP*
Kalimat itu sering saja saya temukan dari beberapa perjumpaan dan ketika melihat kondisi dan realita yang ada, bangsa Indonesia memang tidak kekurangan dengan orang-orang pintar, tapi minus orang-orang yang jujur.
Hal itu juga pernah disebutkan oleh wakil presiden pertama kita yaitu Moh.Hatta yang menyampaikan pesan hidup “kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur itu sulit diperbaiki”
Bukan lantas tidak bisa diperbaiki, tapi hanya saja bagaimana mengurangi kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah menjadi tradisi. Melanjutkan suatu hal yang sebenernya tidak benar dalam konteks kebaikan tapi diimbuhi dengan pembenaran yang kesannya sangat terlihat bahwa hanyalah untuk kemaslahatan pribadi (Sekelompok tertentu) atau kebijaksanaan diri sendiri yang disingkat Bijaksini, dan yang hanya memiliki kesadaran lebih, sosial yang memadai, semua itu cukup bisa dikatakan dengan kepedulian individu yang berkedok kebersamaan.
Kembali menuai makna demokrasi yang tidak habis-habisnya kita bicarakan, terutama di dalam kampus yang menjadi salah satu contoh sederhana praktik atau cerminan arah demokrasi Indonesia kedepan. Kemudian di dalam kampus sendiri ketika memasuki peralihan kepengurusan periodeisasi yang baru dari Pemilwa atau di ranah civitas akademika itu sendiri di istilahkan dengan “demokrasi kampus”.
Menarik ketika membahas tentang demokrasi terlebih yang ada di kampus dan hal itu memiliki impact yang cukup besar terhadap perjalanan demokrasi yang ada di Indonesia. Kita sudah ketahui bahwa dari dulu fenomena dari banyaknya pertentangan yang ada dalam mewujudkan demokrasi Indonesia, mahasiswa telah memberikan sumbangan besar untuk menciptakan dinamika demokrasi di negeri ini sampai sekarang. Dengan begitu, mahasiswa telah menunjukkan peranannya dalam mempertahankan demokrasi ini. baik di bidang politik, sosial, ekonomi dan pendidikan.
Dengan hal yang demikian, juga perlu kita sadari bahwa hal-hal sebaliknya juga bisa saja terjadi atau malah bisa dikatakan sering terjadi dari setiap kampus yang menjadi perjumpaan pertama kali dari praktik sistem demokrasi yang kurang sehat itu dimulai.
Menjadi bukti dari tokoh-tokoh politik pemerintahan yang telah melakukan hal-hal diluar atau melanggar konstitusi negara. Salah satunya yang sering kita dengar adalah kasus korupsi yang masih menjadi informasi yang mengisi berita kriminalisasi di dalam ruang publik. Analisanya perihal ini adalah bahwa mereka yang melakukan hal itu semua juga memiliki riwayat Pendidikan yang sama, yaitu di dalam kampus-kampus yang ada di seluruh nusantara.
Nah dalam perihal sistem demokrasi menghalalkan segala cara ini adalah yang berkaitan dengan kursi yang mereka anggap sebagai suatu keistimewaan yaitu kekuasaan. Mengutip catatan seorang pemerhati perempuan dan generasi yaitu Tri, menuliskan bahwa sistem demokrasi telah menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan, termasuk membangun opini dengan hoax. Hal ini mencerminkan keburukan kepemimpinan yang dibangun di atas pilar sekulerisme yang rusak dan rapuh.
Kalau di dalam pemilu selalu ada istilah pemodal dibaliknya. Ketika para kandidat baik caleg maupun calon kepala daerah dan calon presiden membutuhkan dana sangat besar, para pemodal pun membutuhkan pengistimewaan dari penguasa. Jadilah para pemodal sebagai investor Pemilu. Mereka membiayai kandidat untuk imbalan KKN (Korupsi, kolusi dan Nepotisme).
Karena itu sudah menjadi kewajiban penguasa yang menang Pemilu untuk mengabdi kepada investornya. Terbitlah berbagai regulasi yang menguntungkan mereka. Tepatlah dikatakan bahwa demokrasi itu bukan “dari, oleh, dan untuk rakyat”, namun demokrasi adalah “dari, oleh dan untuk pemodal”.
Relevansi dalam hal ini dengan kampus itu hampir sama, hanya saja dengan istilah yang berbeda. Sejatinya demokrasi yang ada di dalam kampus itu dihasilkan melalui musyawarah bersama tanpa menghilangkan kewajiban dan tanggung jawab dari praktik dan kapabilitasnya dari pemimpin maupun setiap kepengurusan, bukan dengan istilah “dia teman, saudara ataupun kelompok tertentunya saja”.
Salah satu mahasiswa Universitas Negeri Meda Fakultas Ilmu Sosial pernah menulis dengan judul “Demokrasi Waras dalam Kampus” itu mengatakan bahwa kontestasi seperti ini pun akan melahirkan gesekan kecil, hak dipilih dan memilih adalah perwujudan dari sebuah bentuk demokrasi. Seyogyanya kegiatan seperti ini adalah festival gagasan, adu ide, pertarungan pemikiran untuk meramu lembaga dalam satu periode.
Namun nyatanya esensi dari musyawarah itu sudah bergeser nilainya. Pertarungan untuk menduduki kursi nomor satu sering ditunggangi dengan maksud tertentu, misal mencari keutungan pribadi, popularitas, materi, atau dalam bentuk penghargaan. Padalah jika kita memaknai secara waras dan sadar bukan persoalan apa yang lembaga berikan kepada sang aktor, melainkan proses mewakafkan diri terhadap lembaga.
Kesadaran yang jernih dalam hal pilih memilih perlu ditanamkan sejak mahasiswa yang dapat memberikan output terhadap generasi yang akan melanjutkan demokrasi selanjutnya. Karena dalam hal itu yang diutamakan bukanlah perihal politik transaksional kekuasaan yang akhirnya hanya membutakan akan kualitas dan hanya praktik yang dilakukan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu semua.
Seorang ilmuwan politik Amerika Serikat, Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard Sammuel, Phillips Huntington berkata “bahwa gerakan mahasiswa ialah The Universal Opposition” terhadap bentuk kedzaliman pemimpin dan pemerintah yang dilakukannya selama ini, juga hutington menegaskan bahwa mahasiswa merupakan bentuk perlawanan yang tidak akan pernah padam terhadap pemerintahan yang lalim.
Terkait dengan perkataan tersebut, mahasiswa secara kritis akan dituntut untuk melakukan perubahan secara adil dan cermat dalam mengusung ide-ide demokratisasi. Betapa pentingnya peran mahasiswa ini dalam kekuatan pemersatu bangsa dan menjadi penyuara di tengah masyarakat, dan itu dapat dimulai dari dalam kampus, dan kamu sebagai penentu masa depan kualitas demokrasi di Indonesia. Akan seperti apa ? Dampaknya bagaimana ? Itu tergantung kamu menjalani dan melihatnya seperti apa dan bagaimananya di hari ini.
Jadilah salah satu diantara seribu orang yang melakukan kreatifitas demi kemajuan bersama.
Salam literasi !
Hidup pemuda Indonesia !
Salam Mahasiswa !

Komentar
Posting Komentar