Wejangan dari Keluhan Semut
Oleh: F_K*
Dunia sangatlah mudah untuk dipandang dengan mata manusia namun terkadang manusia hanya menggunakan matanya, tidak hatinya. Mereka berpendapat bahwa semuanya mudah bahkan sebelum mereka masuk ke dalannya. Cukup menggampangkan dengan kata-kata lalu menyalahkan ketika gagal menimpa. Mereka tidak peduli banyaknya kerikil yang berkali-kali menusuk kaki pejalannya. Pedulikah mereka dengan hembusan angin yang yang meporak-porandakan mental dan semangatnya? Tentu tidak. Hasil yang mereka lihat, sepucuk kesuksesan yang mereka nilai tetapi tidak dengan bagaimana pejalan itu menepis dan menahan sakit hingga akhirnya terangkis.
Begitulah manusia yang kurang mengisi otaknya dengan ilmu pengetahuan, dangkal sekali mereka berfikir. Padahal dengan mudah mereka mencerna ribuan kalimat motivasi untuk tetap mengadu proses yang tak mudah. Begitu banyak celoteh sang perintis menggambarkan ribuan proses dan tumpukan pengorbanan, namun ego manusia lebih berkuasa atas pikiran mereka sehingga melupakan deretan aksara lama. Mereka berorasi seakan-akan dirinya paling berat berjuang, paling banyak menampung keluh tangis tanpa berfikir bahwa diantaranya ada miliaran semut menggotong beban lebih dari bobot tubuhnya silih berganti. Jika saja manusia mampu mendengar jerit payah semut itu mungkin manusia akan tuli seketika karna saking bisingnya mereka mengeluh panas, berat namun mereka juga butuh hidup dengan dengan layak. Masihkah manusia-manusia bodoh itu mengeluh setelah mendengar jeritan semut-semut itu?
Tanpa adanya akal pun semut itu berproses untuk kelangsungan hidupnya dengan bersama-sama saling tolong-menolong bukan saling merendahkan dan meremehkan perbedaan jalan perjuangan. Lalu bagaimana dengan manusia yang Tuhan berikan akal untuk berfikir? Seharusnya akal itu manusia gunakan untuk mempertimbangkan setiap kejadian untuk dijadikan pengehuan bukan saling menjatuhkan. Menganggap diri sendiri baik itu adalah sebuah penghargaan untuk mental sendiri namun jangan sampai lupa kembali pada fitrahnya seorang makhluk setara. Apalagi jika menganggap orang lain baik bukan berarti mengahncurkan diri sendiri, alangkah baiknya untuk menjadikannya teman dan contoh dalam perbaikan diri karna kembali pada fitrahnya manusia saling mengingatkan bukan menjauh dengan alibi beda ukuran kebaikan.
Tamberu, 13 April 2023
~ F_K ~

Komentar
Posting Komentar