Cerpen : "SATAY"
Tema: Pertemanan
Judul: Satay
Karya: Kabirotun Nadiya
"Tolong....!"
"Kek ada yang minta tolong deh?" ucap Sutar menghentikan teman-temannya.
"Halu kali! Masak iya, di siang bolong gini ada bidadari minta tolong?" sanggah Seyni yang belum mendengar teriakan tadi. Dia masih asik menonton film di hpnya dengan airpods terpasang di kedua telinganya.
"Heh, bocah! Gak usah kau terobsesi dengan cerita si Daihatsu itu!"
"Detsu! Bukan DAIHATSU, Maykoyah!"
“Iye sama aje! Udah ah, diem kau! Namaku sebut jaa kau salah," sewot Guntur memalingkan muka tidak suka karena namanya diplesetin.
"Ya elah, gitu ajah emosi, BAMBANG!" tambah Herin. "Cepet tua, luu!"
"Tolong..!!! Tolong...!"
Guntur menghentikan mereka dengan melentangkan tangannya menghalangi langkah mereka saat suara itu terdengar di telinganya. Mereka seketika ikut terhenti karena sayup-sayup mereka juga mendengar suara anak laki-laki meminta tolong.
"Eh bener yet, ada yang minta tolong."
"Mane yee?" tanya Guntur sendiri sambil menaruh tangannya layaknya sedang hormat dengan menyipitkan matanya tak luput gaya tubuhnya sedikit merendah seolah-olah seorang detektif mencari objek yang cukup jauh.
Seketika mereka langsung menyebar pandangan mencari asal suara. "Lah, tu anak kenape ye? Samperin yuk!" seru Guntur sambil menunjuk beberapa orang yang tak jauh darinya sedang beradu dan tarik-menarik tas.
"Itu anak lagi dirampok, MALII!" ucap Herin sambil menjewer telinga Guntur karena sudah cukup geram dengan tingkahnya.
Sutar dan Asla langsung berlari menolong anak yang sedang dirampok itu. Mereka meninggalkan Heri dan Guntur yang saling beradu sendiri. Karena geram melihat tingkah mereka berdua akhirnya Seyni balik lagi menghampiri Guntur dan Herin lalu menggiring mereka menuju ke TKP. Di sana mereka dilempar ke beberapa preman yang mengeroyok Asla. Lalu mereka membantu melawan dengan imbang ke lima preman itu, satu lawan satu.
Preman-preman itupun berhasil dipukul mundur oleh mereka walaupun Asla memar di sudut bibirnya karena lengah dan Guntur terkena tendangan di bagian perutnya namun tidak terlalu parah. Aksi heroik mereka di berikan apresiasi oleh korban perampok tadi dengan tawaran untuk ke rumah sakit agar diobatin namun mereka menolaknya.
"Udah, gak papa kok! Yang penting kamu selamat."
"“Siaaahhh, si paling baik Asla deh, udah!" sewot Guntur. "Kau enak cuman memar lah liat nih!" Dia menunjuk ke perutnya sendiri yang terasa sakit. "Kena tendang, nih!" sungutnya.
"Keliatan nggak sakitnya?" pertanyaan singkat itu membuat Guntur tunduk, menggeleng. "Diem! Gak usah lebay!" Tak ada yang berani melawan jika sudah Asla yang angkat suara.
Herio diam memperhatikan mereka yang begitu solid dan terkagum pada sikap tegas Asla yang kelihatan keren sebagai ketua gengnya.
"Eh, sebagai tanda terima kasih, gimana kalo aku traktir kalian jajan?"
"Setuju!" ucap Guntur dan Herin bersamaan.
"Dasar bocah gak tau malu!" gerutu Seyni dengan suara pelan hampir tidak terdengar hanya yang berada di sampingnya yang mendengar.
"Udahlah santai!" tolak Asla secara halus sambil menepuk bahu Herio dan hendak pergi.
"Eh tapi beneran loh, aku traktir makan kalian apa aja, bebas! Mau ya!"
"Kek punya duit ajah nih bocah!" celetuk Sutar.
Guntur berbisik dengan Herin entah rencana apa yang akan mereka keluarkan kali ini. Melihat tingkah itu, Seyni menggelengkan kepala apalagi saat mereka selesai berdiskusi, langsung mengangkat jempol sambil tersenyum bahagia.
“Ekhm. Jadi gini, herio. Tadi itu Asla ngomong katanya pengen banget makan sate di Restoran Satay yang mahal, itu loh." celoteh itu langsung direspon dengan kerutan dahi oleh Asla selaku korban kambing hitamnya. Namun bukannya takut mereka malah senyum tanpa rasa bersalah saat menunjuk ke sebuah restoran besar dan megah di ujung jalan sana.
"Oke! Aku traktir kalian makan di sana, gratis. Aku yang bayar." Herio mengatakan itu dengan penuh keyakinan. Dia pun menggiring Asla dan Sutar yang agar mereka tidak lagi menolak tawarannya. Mau tidak mau mereka pun ikut dengan Herio menuju ke Restoran Satay di ujung jalan sana.
"Widiiiihhh, keren!" puji Guntur yang tidak menyangka akan masuk ke restoran mahal dan mewah seperti itu. Karena selama ini mereka hanya bisa lewat dan berhayal bisa makan makanan di situ namun mereka merasa mustahil untuk mewujudkannya dengan kondisi ekonomi mereka yang rendah itu.
"Kalian mau pesan apa?" Herio memberikan daftar menu ke mereka masing-masing. "Pilih apa aja yang kalian mau!"
Mendengar ucapan itu Guntur dan Herin pun langsung berbinar wajahnya. "Yakin apa aja, nih?"
"Iya, semuanya juga boleh."
"Wah, keren!" Guntur mengangkat dua jempol tangannya sebagai penguat pujiannya. "Ini baru namanya orang kaya! Iya nggak?" dia menyenggol Herin yang fokus membaca menu.
"E-eh iya iya bener."
"Jangan semua!" larang Asla yang langsung mengubah ekspresi mereka.
Melihat tingkah mereka berdua, ketiga temannya itu hanya menggelengkan kepala dan Herio hanya tersenyum menanggapinya. Mereka bertiga pun memasrahkan pesanannya pada Herin dan Guntur agar tidak terlalu merepotkan. Selama menunggu mereka memutuskan untuk membahas hal lainnya.
“By the way, kalian emang gak pernah makan di sini?" tanya Herio ke Asla.
"Boro-boro makan di restoran, makan di warung ajah, kita kudu ngutang separuhnya." celetuk Herin membuat Herio menoleh ke arahnya. Namun matanya masih belum berpindah dari daftar menu yang kini sudah dia bagi dengan Guntur.
"Pengen nyobain semua menunya nggak?" tawar Herio akhirnya.
"Boleh!" ucap Herin dan Guntur berbarengan. "Gak usah", sanggah Asla karna merasa tidak enak dengan Herio.
"Gak papa kok, santai!" Herio pun melambaikan tangan memanggil salah satu karyawan restoran. "Tolong hidangkan menu-menu terbaik untuk meja ini, oke!"
"Siap tuan, pesanan anda akan segera datang." ucap pelayan itu dengan ramah.
"Cantik, ramah pula, keknya dia deh yang dicari mamak kemarin."
"Dicari kenapa?" tanya Guntur penasaran soalnya rumah mereka tetanggaan.
"Mau dijadiin menantu, hahahaha.... " Akibatnya mereka tertawa bersama dengan jokes Seyni.
Tak lama makanan mereka pun datang satu per satu dengan keadaan yang sudah hangat jadi tidak perlu menunggu lama untuk dimakan. Herio pun mempersilahkan mereka untuk makan. Dari situ dia dapat melihat binaran mata mereka yang meyakinkannya bahawa mereka belum pernah mendapatkan makanan yang terhidangkan di meja. Tidak ada kebohongan bahkan dia hanya melihat kemesraan mereka dengan kerandoman sikap satu sama lainnya.
Banyak sekali suasana yang dapat Herio baca selama makan dengan mereka, seperti kebersamaan dan juga pertemanan yang tidak melibatkan apa-apa termasuk harta. Melihat mereka yang sangat akrab bagaikan saudara dan saling support satu sama lain membuatnya tersenyum sendiri dan sesekali bergabung dengan suasana itu. Baru kali ini dia merasa makan di restorannya sendiri itu terasa lebih hidup dan dia juga bisa melihat kebahagiaan yang sesungguhnya dengan mereka.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar